INDONESIA (Media Bisnis Nasional.com) - Founder & Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menilai gangguan rantai pasok global telah mulai berdampak langsung pada ketersediaan bahan baku industri (non-energi) di Indonesia. Indikasi paling nyata terlihat dari lonjakan harga plastik domestik yang meningkat hingga 50–100 persen, mencerminkan gangguan pasokan bahan baku impor yang menjadi input utama berbagai sektor manufaktur.
Kondisi ini bukan sekadar kenaikan harga, tetapi merupakan sinyal awal
dari krisis stok bahan baku. Gangguan tidak hanya terjadi pada plastik, tetapi
juga pada bahan kimia industri seperti sulfur dan acid, material logam seperti
aluminium, serta material kritikal seperti helium yang digunakan dalam industri
elektronik dan teknologi tinggi. Banyak dari material tersebut sulit
disubstitusi dalam jangka pendek, sehingga berdampak langsung pada proses
produksi.
Kerentanan Indonesia semakin besar karena struktur industrinya masih
bergantung pada impor. Lebih dari 70 persen kebutuhan bahan baku industri nasional
dipenuhi dari luar negeri, terutama untuk sektor kimia, petrokimia, dan
manufaktur berbasis material. Ketika pasokan global terganggu, industri
domestik menghadapi risiko keterlambatan bahan baku, penurunan kapasitas
produksi, serta peningkatan biaya input.
SCI melihat bahwa gangguan saat ini bersifat multi-material shortage,
yaitu berbagai jenis bahan baku terdampak secara bersamaan. Dampaknya tidak
hanya pada harga, tetapi juga pada ketersediaan fisik material, yang berpotensi
menekan utilisasi pabrik dan mengganggu kontinuitas produksi. Dalam jangka
pendek, kondisi ini dapat memicu efek berantai berupa peningkatan lead time,
kenaikan biaya produksi, serta tekanan terhadap harga produk di pasar.
Tanpa langkah mitigasi yang cepat dan terkoordinasi, gangguan pasokan
bahan baku ini berpotensi menjadi hambatan struktural bagi pertumbuhan industri
Indonesia. Sebaliknya, kondisi ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat
ketahanan rantai pasok nasional dan meningkatkan daya saing industri di tengah
dinamika global.
Rekomendasi
SCI menyampaikan lima rekomendasi bagi para pihak. Pertama, diversifikasi
pasokan harus dilakukan secara agresif dan terukur; tidak lagi bergantung pada
satu atau dua negara pemasok utama. Diversifikasi dengan memetakan sumber
alternatif di berbagai kawasan seperti Asia Selatan, Afrika, dan Amerika Latin,
sekaligus mengevaluasi risiko geopolitik, stabilitas pasokan, dan kesiapan
logistik agar tidak menciptakan kerentanan baru dalam rantai pasok.
Kedua, strategi persediaan diperkuat melalui selective buffering berbasis
risiko. Perusahaan harus mengidentifikasi bahan baku kritis yang sulit
disubstitusi, lalu menerapkan kebijakan persediaan yang adaptif. Pendekatan ini
bukan sekadar menambah stok, tetapi memastikan ketersediaan material strategis
untuk menjaga kontinuitas produksi tanpa membebani biaya inventory secara
berlebihan.
Ketiga, visibilitas dan kontrol end-to-end rantai pasok harus
ditingkatkan. Dalam kondisi ketidakpastian tinggi, perusahaan perlu memiliki
transparansi penuh dari pemasok hulu hingga distribusi hilir. Pemanfaatan
teknologi seperti digital supply chain, tracking system, dan predictive
analytics menjadi kunci untuk mendeteksi potensi gangguan lebih dini dan
memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.
Keempat, fleksibilitas material dan desain produk perlu dikembangkan.
Perusahaan harus mulai mengkaji alternatif bahan baku untuk mengurangi
ketergantungan pada material tertentu. Hal ini memerlukan kolaborasi antara
fungsi procurement, R&D, dan produksi agar substitusi material tetap
memenuhi standar kualitas dan tidak mengganggu performa produk.
Kelima, penguatan industri hulu dalam negeri harus dipercepat. Pemerintah
perlu mendorong pengembangan sektor bahan baku domestik, khususnya petrokimia,
kimia dasar, dan material industri. Selain mengurangi ketergantungan impor,
langkah ini juga perlu didukung dengan integrasi hulu–hilir agar rantai pasok
nasional menjadi lebih kuat, efisien, dan adaptif terhadap gangguan global.
(Redaksi MBN.Com/Humas SCI).






Tidak ada komentar:
Posting Komentar