Media Bisnis Nasional, Jakarta 8 Januari 2026 - Pada November 2025, kinerja impor Indonesia tercatat sebesar USD 19,86 miliar. Nilai ini turun 9,09 persen dibanding Oktober 2025 (MoM). Nilai impor November 2025 terdiri atas sektor nonmigas sebesar USD 17,00 miliar dan migas sebesar USD 2,86 miliar.
“Secara kumulatif, impor Indonesia pada Januari–November 2025 mencapai USD 218,02 miliar atau tumbuh 2,03 persen (CtC). Peningkatan ini disebabkan oleh impor nonmigas yang naik 4,37 persen menjadi USD 188,61 miliar dibanding Januari–November 2024 yang sebesar USD 180,71 miliar,” ujar Mendag Busan.
Beberapa komoditas impor nonmigas dengan peningkatan tertinggi, antara lain, garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) sebesar 70,89 persen; kakao dan olahannya (HS 18) 54,53 persen; serta berbagai produk kimia (HS 38) 36,12 persen (CtC).
Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia pada Januari–November 2025 didominasi Tiongkok, Jepang, dan AS dengan kontribusi gabungan mencapai 52,87 persen terhadap total impor nonmigas. Sementara itu, negara asal impor dengan kenaikan tertinggi dibanding Januari–November 2024 adalah Meksiko dengan 234,22 persen, Uni Emirat Arab 74,86 persen, dan Spanyol 38,32 persen (CtC).
Selain itu, struktur impor Januari–November 2025 masih didominasi bahan baku atau penolong dengan pangsa 70,27 persen, diikuti barang modal 20,55 persen dan barang konsumsi 9,18 persen. Dibanding Januari–November 2024, impor barang modal naik 18,54 persen, sementara impor barang konsumsi turun 2,02 persen, dan bahan baku atau penolong turun 1,46 persen.
“Kenaikan impor barang modal yang mencapai 18,54 persen turut disebabkan naiknya impor central processing unit (CPU), ponsel pintar, mobil listrik (selain completely knocked down/CKD), dan base station,” ujar Mendag Busan.
Selanjutnya, impor produk bahan baku atau penolong dengan penurunan terdalam pada Januari–November 2025, yaitu bahan bakar minyak, gula tebu, kacang kedelai, bungkil untuk pakan ternak, dan polipropilena. Di sisi lain, impor barang konsumsi turun terutama untuk mesin pengatur suhu udara, bawang putih, mobil listrik (CKD), non-dairy creamer, dan obat-obatan.
(Sonny H. Sayangbati).




Tidak ada komentar:
Posting Komentar