JAKARTA (Mediabisnisnasional.com) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDB atas dasar harga berlaku triwulan I-2026 mencapai Rp6.187,2 triliun dan PDB atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.447,7 triliun. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 13,14 persen, diikuti Jasa Lainnya 9,91 persen serta Transportasi dan Pergudangan 8,04 persen. Industri Pengolahan sebagai sektor terbesar tumbuh 5,04 persen.
Supply Chain
Indonesia (SCI) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026
sebesar 5,61 persen (y-on-y) menunjukkan daya tahan ekonomi nasional yang cukup
baik. Namun, kontraksi 0,77 persen secara triwulanan (q-to-q) mengindikasikan
penguatan kualitas pertumbuhan diperlukan agar tidak terlalu bertumpu pada
faktor musiman dan konsumsi domestik.
Founder & CEO
SCI Setijadi mengatakan pertumbuhan Transportasi dan Pergudangan yang lebih
tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan aktivitas logistik menjadi
salah satu penggerak penting ekonomi. Namun, peningkatan aktivitas tersebut
harus diikuti efisiensi biaya, peningkatan produktivitas, integrasi antarmoda,
dan digitalisasi rantai pasok.
Dari sisi
pengeluaran, pertumbuhan masih ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52
persen dan berkontribusi 54,36 persen terhadap PDB. PMTB tumbuh 5,96 persen,
sedangkan ekspor barang dan jasa hanya tumbuh 0,90 persen, jauh di bawah impor
barang dan jasa yang tumbuh 7,18 persen. Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan
ekonomi masih perlu diperkuat dari sisi produktivitas industri dan daya saing
ekspor.
SCI merekomendasikan
pemerintah memperkuat konektivitas logistik dari sentra produksi ke pasar dan
pelabuhan, mempercepat digitalisasi layanan logistik, serta mendorong
pengembangan pusat konsolidasi barang di luar Jawa. Hal ini penting karena
struktur ekonomi masih terkonsentrasi di Jawa dengan kontribusi 57,24 persen, meskipun
Bali-Nusa Tenggara dan Sulawesi mencatat pertumbuhan tinggi masing-masing 7,93
persen dan 6,95 persen.
Perkembangan Ekspor
dan Impor
Pada perdagangan
internasional, BPS mencatat ekspor Januari-Maret 2026 mencapai USD66,85 miliar
atau hanya naik 0,34 persen, sementara ekspor Maret 2026 turun 3,10 persen
secara tahunan menjadi USD22,53 miliar.
Sebaliknya, impor
Januari-Maret 2026 naik 10,05 persen menjadi USD61,30 miliar, terutama didorong
impor bahan baku/penolong dan barang modal. Neraca perdagangan masih surplus
USD5,55 miliar, tetapi lebih rendah dibanding surplus Januari-Maret 2025
sebesar USD10,91 miliar.
Setijadi menilai
penurunan ekspor Maret perlu diantisipasi agar tidak berkembang menjadi
pelemahan berkepanjangan. Ekspor nonmigas masih ditopang industri pengolahan
yang naik 3,96 persen, tetapi ekspor pertanian turun 32,18 persen dan
pertambangan turun 11,17 persen. Di sisi lain, kenaikan impor barang modal
dapat menjadi indikasi ekspansi kapasitas produksi, namun harus dikawal agar
berdampak pada peningkatan produktivitas dan ekspor bernilai tambah.
SCI merekomendasikan
pemerintah dan pelaku usaha memperkuat hilirisasi, diversifikasi pasar ekspor,
konsolidasi muatan ekspor, efisiensi pelabuhan, serta layanan logistik ekspor
yang lebih kompetitif. Kenaikan impor bahan baku dan barang modal perlu
diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi nasional, memperdalam rantai
pasok domestik, dan mengurangi ketergantungan impor dalam jangka menengah.
(Redaksi
MBN.Com/Humas SCI).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar