Pages

Sabtu, Juni 27, 2026

PT Pelabuhan Indonesia Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka, Hari Pelaut Sedunia

  



JAKARTA INDONESIA (Mediabisnisnasional.com) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo menegaskan bahwa Indonesia perlu mengambil peran yang lebih besar dalam aktivitas pelayaran internasional di Selat Malaka agar tidak hanya menjadi negara yang dilalui kapal, tetapi juga memperoleh nilai tambah ekonomi nasional dari layanan maritim. Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, dalam Strategic Maritime Forum yang digelar pada peringatan Hari Pelaut Sedunia (Day of the Seafarer) 2026 di Jakarta, Kamis (25/6/2026).


Forum tersebut dihadiri oleh Wakil Menteri Perhubungan Suntana, Senior Director Transportation Danantara Asset Management Wamildan Tsani Panjaitan, Kepala Badan Kebijakan Transportasi Irjen Pol. Dr. Capt. Hermanta, serta para pemangku kepentingan sektor maritim yang membahas penguatan peran Indonesia dalam ekosistem pelayaran dan logistik internasional.


Dalam kesempatan tersebut, Achmad menjelaskan bahwa Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang memiliki arti strategis bagi Indonesia. Selain menjadi koridor utama perdagangan internasional, kawasan tersebut juga memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi melalui penyediaan layanan maritim yang terintegrasi.


"Selat Malaka bukan hanya jalur pelayaran internasional. Bagi Indonesia, kawasan ini adalah ruang strategis untuk memperkuat kedaulatan maritim sekaligus menangkap nilai ekonomi yang lebih besar dari aktivitas perdagangan dunia," ujar Achmad.


Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat kehadirannya melalui penyediaan layanan maritim yang aman, andal, dan kompetitif, mulai dari layanan pemanduan, penundaan, ship to ship transfer, transshipment, floating storage, hingga berbagai layanan pendukung kapal lainnya. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi kawasan lintasan pelayaran, tetapi juga menjadi bagian penting dari rantai logistik dan perdagangan internasional.


"Ketika aktivitas pelayaran dunia melintas di dekat wilayah kita, Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus mampu menyediakan layanan yang kuat, andal, dan bernilai tambah bagi kepentingan nasional," jelas Achmad.


Selain memberikan nilai tambah ekonomi, Achmad menegaskan bahwa penguatan layanan maritim juga berperan penting dalam meningkatkan keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan laut. Tingginya lalu lintas kapal di Selat Malaka membutuhkan tata kelola layanan yang baik untuk meminimalkan risiko kecelakaan, pencemaran, maupun potensi oil spill yang dapat berdampak pada wilayah perairan Indonesia.


"Penguatan layanan pandu, tunda, dan layanan maritim lainnya bukan semata-mata soal bisnis. Ini juga menyangkut keselamatan pelayaran, perlindungan lingkungan, dan kehadiran negara dalam menjaga ruang maritimnya," tambah Achmad.


Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pelindo terus mengembangkan layanan maritim di kawasan strategis, salah satunya melalui pengoperasian Nipa Transfer Anchorage Area (NTAA) di Perairan Nipa, Kepulauan Riau, yang mulai beroperasi sejak Mei 2026. Layanan tersebut mencakup ship to ship transfer, pelayanan kapal, serta floating storage untuk mendukung aktivitas maritim di sekitar Selat Malaka.


"Pengembangan layanan di Perairan Nipa merupakan langkah penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan dan logistik internasional. Ini bukan sekadar pengembangan bisnis kepelabuhanan, tetapi bagian dari upaya menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia," lanjut Achmad.


Achmad juga menegaskan bahwa penguatan layanan maritim harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas dan peran pelaut Indonesia. Menurutnya, berkembangnya layanan pemanduan, penundaan, ship to ship transfer, serta berbagai layanan maritim lainnya akan membuka peluang yang lebih besar bagi pelaut nasional untuk berkontribusi di sektor maritim, baik di tingkat nasional maupun internasional.


"Pelaut Indonesia memiliki kompetensi dan ketangguhan yang telah diakui. Karena itu, penguatan ekosistem maritim nasional harus sekaligus menjadi ruang bagi pelaut Indonesia untuk mengambil peran yang lebih besar, baik di dalam negeri maupun di kawasan strategis internasional," kata Achmad.


Lebih lanjut, Achmad menjelaskan bahwa Pelindo saat ini terus memperkuat transformasi perusahaan dari operator pelabuhan menjadi penyedia layanan kepelabuhanan dan maritim yang terintegrasi (end-to-end port and marine ecosystem integrator). Transformasi tersebut diwujudkan melalui penguatan konektivitas pelabuhan, pengembangan layanan maritim, digitalisasi layanan, serta integrasi pelabuhan dengan kawasan industri dan hinterland untuk mendukung efisiensi rantai pasok nasional.


Menurutnya, optimalisasi potensi Selat Malaka tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan memerlukan sinergi yang erat antara pemerintah, regulator, BUMN, pelaku usaha, dan komunitas maritim. Kolaborasi tersebut menjadi kunci agar Indonesia mampu meningkatkan daya saing layanan maritim sekaligus memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari aktivitas pelayaran internasional.


"Selat Malaka harus menjadi ruang strategis yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi Indonesia. Melalui kolaborasi yang kuat, kita dapat memperkuat kedaulatan maritim, meningkatkan keselamatan pelayaran, memperbesar kontribusi sektor maritim terhadap perekonomian nasional, sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi pelaut Indonesia untuk berkembang," tutup Achmad.


Melalui Strategic Maritime Forum dalam rangka Hari Pelaut Sedunia 2026, Pelindo menegaskan komitmennya untuk terus mendukung penguatan ekosistem maritim nasional, meningkatkan daya saing layanan kepelabuhanan, serta memperbesar kontribusi sektor maritim bagi Indonesia.



(Redaksi MBN.Com/Corcom Pelindo Pusat).

PT Terminal Petikemas Surabaya Perluas Program “Donasi Oksigen” melalui Penanaman Mangrove di Pesisir Romokalisari Surabaya

  

 



SURABAYA (Mediabisnisnasional.com) - PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) terus memperluas dampak program keberlanjutan lingkungan “Donasi Oksigen” melalui penanaman mangrove di kawasan Adventure Land Romokalisari, Kecamatan Benowo, Surabaya pada Sabtu (27/6). Kegiatan ini merupakan bagian dari kelanjutan program pembibitan dan penanaman mangrove yang dilakukan secara bertahap di berbagai wilayah pesisir.


Pada kegiatan ini, sebanyak 2.000 bibit mangrove ditanam oleh Yayasan Omah Boso sebagai mitra pelaksana di lapangan. Penanaman ini melanjutkan kegiatan sebelumnya, di mana TPS telah menanam 3.000 bibit mangrove di kawasan Sontoh Laut, Surabaya, serta 2.000 bibit di wilayah Manyar, Gresik, sehingga secara keseluruhan telah mencapai total 7.000 bibit mangrove yang ditanam di wilayah pesisir Surabaya dan Gresik. 


Program “Donasi Oksigen” merupakan inisiatif berkelanjutan TPS yang mencakup proses dari hulu hingga hilir, mulai dari pembibitan, perawatan, hingga penyaluran dan penanaman mangrove di berbagai titik pesisir guna memperluas kawasan hijau. 


Dengan adanya penanaman di kawasan Romokalisari ini, TPS kembali memperluas sebaran manfaat mangrove, khususnya dalam mendukung kelestarian lingkungan pesisir di wilayah Surabaya Barat. Selain berfungsi sebagai pelindung alami terhadap abrasi, mangrove juga berkontribusi dalam penyerapan karbon serta peningkatan kualitas ekosistem pesisir. 


Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk komitmen jangka panjang perusahaan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan melalui pendekatan yang terintegrasi.


“Program Donasi Oksigen merupakan upaya berkelanjutan TPS dalam memastikan bahwa setiap proses pembibitan mangrove memberikan dampak nyata melalui penanaman di berbagai wilayah pesisir. Kegiatan di Romokalisari ini menjadi bagian dari perluasan manfaat tersebut, sehingga kontribusi TPS terhadap lingkungan terus bertambah,” ujar Erika.


Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Yayasan Omah Boso, menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini.


“Sinergi dengan mitra pelaksana seperti Yayasan Omah Boso menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan dan efektivitas program, sehingga manfaat ekologis dan sosialnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat,” tambahnya.


Melalui program ini, TPS tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan, tetapi juga mendukung mitigasi perubahan iklim, mengurangi risiko abrasi, serta memberikan nilai tambah bagi kawasan pesisir sebagai ruang edukasi dan wisata berbasis lingkungan. 


Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen TPS untuk terus menghadirkan solusi berbasis alam (nature-based solutions) yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga kelestarian pesisir bagi generasi mendatang.


(Redaksi MBN.Com/Corcom TPS Surabaya).