Pages

Jumat, Januari 23, 2026

Pertapreneur Aggregator, Bangun UMKM Sektor Pangan Berdaya Saing



Media Bisnis Nasional, Jakarta, 23 Januari 2026 – Berdasarkan data Kementerian UMKM, Indonesia memiliki setidaknya 30,19 juta pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang menawarkan produk dengan keunggulannya masing-masing. Bersaing sehat dengan jutaan pelaku usaha, bagaimana supaya UMKM bisa naik kelas sekaligus meningkatkan penjualannya?. 


Salah satu cara efektif adalah pengenalan produk ke masyarakat. Ajang jitu tersebut yakni Pertamina SMEXPO (Small Medium Enterprise Expo), yakni ekosistem pengenalan produk UMKM dalam bentuk marketplace SMEXPO.pertamina.com serta melalui event pameran produk UMKM yang digelar PT Pertamina (Persero) di berbagai kota. 


Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron mengungkapkan, pengembangan UMKM menjadi salah satu program unggulan tanggung jawab sosial lingkungan Pertamina, sejalan dengan upaya Pertamina meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat. 


“Pertamina SMEXPO terus dikembangkan, menjadi platform inovatif untuk kemajuan UMKM lokal melalui kolaborasi strategis antar UMKM, maupun sarana bertemunya UMKN dengan calon pembeli," jelas Baron. 


SMEXPO menjadi puncak kegiatan UMKM binaan Pertamina. Pasalnya, sebelum aktif mengikuti pameran, Pertamina menjalankan beragam program pengembangan UMKM, seperti pendampingan dan peningkatan kualitas dalam program UMK Academy, pemberian hibah alat tepat guna, bahkan sertifikasi profesional. 


Melalui upaya-upaya tersebut, Pertamina mengubah entitas usaha lokal menjadi pelaku usaha profesional yang berlaga di kancah nasional maupun internasional.


Produk Cimeler (Cilok Meler) milik Astuti, misalnya, secara konsisten mencatatkan penjualan tertinggi dan kini tengah dalam proses standarisasi BPOM untuk menembus pasar ekspor. 


Selain perizinan, solusi permodalan juga menjadi elemen penting pendampingan Pertamina yang dinikmati oleh pengusaha UMK peserta Pertamina SMEXPO. Bagi Astuti yang sebelumnya bermodal terbatas, akses pembiayaan dari Pertamina telah membuka peluang memperbesar skala produksi.

 

"Pinjaman Modal Kerja melalui skema Dana PUMK dari Pertamina yang disalurkan melalui sinergi dengan BRI itu lebih murah [bunganya] dibandingkan KUR perbankan biasa," tukas Astuti.


Mitra Binaan UMK Pertamina lainnya, Hendra Agustira, pemilik Ocien Snack mengakui, setelah mengikuti Pertamina SMEXPO, usahanya mencatatkan peningkatan penjualan dan mulai melayani permintaan pasar Eropa setelah sukses menjangkau Jepang dan Australia.


“Ada peningkatan penjualan 25-30%. Setelah acara Pertamina SMEXPO, kami mendapatkan lebih banyak reseller yang kontinu memesan sampai saat ini," ungkap Hendra.


Di sektor olahan pangan, Ngudiono, pemilik usaha NanasQu juga menunjukkan lonjakan penjualan sebesar 20% berkat jejaring bisnis baru yang terbentuk selama pameran Pertamina SMEXPO. Melalui strategi pemasaran digital dan promosi terintegrasi dari Pertamina, produk olahan nanas asal Jawa Tengah ini telah berhasil menembus pasar Dubai dan Belanda.


Di luar itu, pemasaran secara digital pun memanen hasil yang menggembirakan, berkat promosi yang dilakukan oleh Pertamina selama pameran. Rating penjualan NanasQu terus menanjak, seiring dengan bertambahnya pengikut atau follower di media sosial produk tersebut.

 

"Oleh Pertamina, kami selalu didorong untuk Go Global, Go Export dan Go Online," tutur Ngudiono.


Kisah sukses UMKM Binaan Pertamina kian menguatkan komitmen Pertamina dalam melakukan program pembinaan UMK yang komprehensif dan inovatif, salah satunya melalui program Pertamina SMEXPO.


Aksi ini juga sejalan dengan visi Asta Cita Pemerintah Indonesia, khususnya peningkatan kesejahteraan melalui pemberdayaan masyarakat. Yakni, membangun dari desa, menciptakan lapangan kerja, mendorong kewirausahaan, dan mengembangkan ekonomi kreatif.


Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.danantaraindonesia.co.id/.

S. Hendhry S.

Titik Balik Penguatan Budaya Keselamatan, Pertamina Luncurkan Stop Work Authority di Peringatan Bulan K3



Media Bisnis Nasional, Jakarta, 23 Januari 2026 — PT Pertamina (Persero) menggelar kegiatan Peringatan Bulan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) 2026 dan Leaders Forum yang dilaksanakan di Jakarta pada 22 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penguatan komitmen Pertamina dalam membangun budaya keselamatan kerja di seluruh lini operasional perusahaan.


Sebagai upaya sistematis meningkatkan kepedulian pekerja, Pertamina meluncurkan inisiatif Stop Work Authority (SWA), yaitu kewenangan yang diberikan kepada setiap pekerja dan mitra kerja untuk menghentikan sementara aktivitas pekerjaan apabila dinilai tidak aman.


Pelaksana Tugas Harian (PTH) Direktur Utama Pertamina, Ahmad Siddik Badruddin, menyampaikan bahwa Pertamina sedang memperkuat kapabilitas organisasi dalam mengelola HSSE. Ia menekankan pentingnya para Senior Leaders untuk menjadi role model yang menunjukkan bahwa keselamatan adalah prioritas tertinggi di atas segalanya.


Senada dengan hal tersebut, Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, memberikan instruksi tegas mengenai kebijakan Zero Tolerance terhadap pelanggaran prosedur keselamatan. Beliau menyoroti perlunya kehadiran supervisi HSSE yang nyata di lapangan serta penempatan tenaga berpengalaman pada posisi-posisi kritikal.


Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan Stop Work Authority merupakan mekanisme yang jelas dan dapat dilakukan oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun. “Ketika pekerjaan dirasakan berpotensi menimbulkan risiko keselamatan jiwa, aset maupun lingkungan, pekerja maupun mitra kerja memiliki hak sekaligus bertanggung jawab untuk menghentikan pekerjaan” jelas Baron.


Baron menambahkan bahwa penggunaan Stop Work Authority bukan penghambat kinerja. “Justru sebaliknya, ini merupakan bentuk keberanian dan integritas untuk melindungi diri sendiri, rekan kerja, serta aset perusahaan,” lanjut Baron.


Pertamina meyakini bahwa dengan menjadikan keselamatan kerja sebagai nilai utama, budaya keselamatan yang kuat bukan hanya menjadi fondasi keberlangsungan bisnis, tetapi juga merupakan wujud tanggung jawab perusahaan dalam melindungi pekerja, aset, dan lingkungan.


Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.danantaraindonesia.co.id/.


S. Hendhry S.

Peringatan Bulan K3 2026, Pelindo Regional 2 Dorong Penguatan Budaya Keselamatan Kerja

 

 


JAKARTA (Media Bisnis Nasional.com) - Pelindo Regional 2 menegaskan komitmennya dalam memperkuat budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai fondasi utama operasional pelabuhan nasional.

 

Komitmen tersebut disampaikan dalam upacara peringatan Bulan K3 Tahun 2026 yang digelar di Ruang Serbaguna Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Jakarta. Kamis (22/1).

 

Upacara peringatan Bulan K3 ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, antara lain Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok, jajaran manajemen Pelindo Regional 2, serta seluruh anak perusahaan Pelindo yang beroperasi di wilayah Tanjung Priok.

 

Plh Executive Director 2 Pelindo Regional 2, Budi Prasetio, dalam sambutannya menegaskan bahwa kecelakaan kerja tidak dapat lagi dipandang sebagai insiden teknis semata, melainkan sebagai alarm keras atas masih adanya celah dalam sistem keselamatan yang harus dibenahi secara menyeluruh dan berkelanjutan.

 

“Setiap kecelakaan kerja adalah sinyal bahwa masih ada proses yang tidak aman, peralatan yang tidak layak, pengawasan yang belum optimal, serta budaya K3 yang belum sepenuhnya mengakar. Ini bukan semata kegagalan teknis, melainkan kegagalan sistem,” ujar Budi melalui keterangan tertulis.

 

Ia menambahkan bahwa tantangan pengelolaan K3 saat ini tidak hanya tercermin dari angka kecelakaan, tetapi juga bersifat struktural.

 

Kualitas dan pemerataan layanan K3, menurutnya, masih perlu terus ditingkatkan agar sebanding dengan luas wilayah kerja, kompleksitas aktivitas pelabuhan, serta keragaman sektor usaha yang dilayani Pelindo.

 

Selain itu, pendekatan K3 yang masih terfragmentasi antar unit dan antar pemangku kepentingan juga menjadi perhatian. Padahal, risiko kerja tidak mengenal batas administratif dan dapat berdampak lintas wilayah maupun lintas fungsi.

 

“Keselamatan kerja harus dikelola sebagai satu kesatuan sistem. Karena itu, pendekatan parsial atau reaktif tidak lagi relevan. Kita membutuhkan lompatan cara berpikir dan cara kerja, dengan menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan,” jelasnya.

 

Budi juga menekankan pentingnya menjadikan pendekatan promotif dan preventif sebagai arus utama pengelolaan K3. Investasi pada pencegahan terbukti jauh lebih efisien dibandingkan biaya penanganan kecelakaan dan dampak lanjutan yang ditimbulkannya.

 

Lebih lanjut, profesionalisme dalam pengelolaan K3 harus tercermin dalam pengambilan keputusan berbasis data, keberanian menghentikan praktik kerja yang berisiko.

 

Selain itu,konsistensi menjadikan keselamatan sebagai bagian integral dari sistem manajemen perusahaan, bukan sekadar kewajiban administratif. Membangun ekosistem K3 berarti membangun keterhubungan yang utuh antar seluruh pemangku kepentingan.

 

"Pemerintah sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaksana, pekerja sebagai subjek utama, serta akademisi, asosiasi profesi, dan media sebagai penguat literasi dan kesadaran publik, harus bergerak dalam satu arah tujuan, yakni mencegah kecelakaan dan melindungi pekerja,” tutup Budi.

 

(Redaksi  <MB.Com/Hendhry S.). 

PTP Nonpetikemas Raih Penghargaan HSSE Zero LTI dari Mubadala Energy

 


JAKARTA (MBN.Com) – PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) kembali menorehkan capaian positif di bidang keselamatan dan lingkungan kerja. PTP menerima penghargaan Health, Safety, Security, & Environment (HSSE) dengan Zero Loss Time Incident (LTI) dari Mubadala Energy dalam ajang Mubadala Energy Indonesia Contractor Forum 2026.


Penghargaan tersebut diberikan atas kinerja unggul PTP Nonpetikemas dalam penerapan HSSE pada operasional shorebase PTP Nonpetikemas di Lhokseumawe, Aceh, sepanjang tahun 2025, yang berhasil mencatatkan nihil kecelakaan kerja yang mengakibatkan hilangnya waktu kerja.


Dwi Rahamad Toto S., Direktur Komersial sekaligus Plt. Direktur Operasi PTP Nonpetikemas, menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan hasil dari konsistensi penerapan standar keselamatan kerja di seluruh lini operasional.


“Penghargaan HSSE Zero LTI ini menjadi bukti nyata komitmen PTP Nonpetikemas dalam menempatkan keselamatan, kesehatan kerja, dan perlindungan lingkungan sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas operasional. Capaian ini tidak terlepas dari kedisiplinan seluruh insan PTP dalam menjalankan prosedur kerja yang aman dan berstandar tinggi,” ujar Toto.


Lebih lanjut, Toto menambahkan bahwa penerapan HSSE bukan hanya menjadi kewajiban, tetapi telah menjadi bagian dari budaya kerja perusahaan.


“Kami percaya bahwa operasional yang aman dan berkelanjutan merupakan fondasi utama dalam memberikan layanan shorebase yang andal bagi mitra strategis, khususnya di sektor energi,” tambah Toto.


Capaian ini sekaligus menegaskan komitmen PTP Nonpetikemas dalam menyediakan layanan shorebase yang mengedepankan aspek keselamatan, kesehatan kerja, keamanan operasional, serta kelestarian lingkungan. Penghargaan dari Mubadala Energy menjadi motivasi bagi PTP untuk terus meningkatkan kinerja HSSE dan memberikan layanan terbaik bagi para mitra dan pelanggan.


Penghargaan HSSE ini melanjutkan rekam jejak positif PTP Nonpetikemas, yang sebelumnya juga telah menerima penghargaan Health, Safety, Security, & Environment (HSSE) dari Mubadala Energy pada ajang Mubadala Energy Indonesia Contractor Forum 2024, atas kinerja unggul dalam penerapan HSSE pada operasional shorebase di Lhokseumawe, Aceh, sepanjang tahun 2023.



PTP Nonpetikemas terus memperkuat kapabilitas operasionalnya melalui penyediaan layanan shorebase terintegrasi berstandar internasional. Fasilitas yang disediakan meliputi open yard untuk stacking dan staging point, liquid mud plant, dry bulk plant, operasi jetty 24 jam, shorebase site office, gudang dengan standar keselamatan dan keamanan tinggi, layanan alat berat, personel shorebase bersertifikasi migas, serta workshop dan industrial hub complex yang mendukung operasional migas secara aman, efisien, dan berkelanjutan.


Hingga saat ini, PTP Nonpetikemas telah dipercaya menangani layanan shorebase bagi klien domestik dan internasional, termasuk Harbour Energy (Inggris), Mubadala Energy (Abu Dhabi), HCML (China & Australia), Conrad Energy (Singapura), serta Medco Asia (swasta nasional). Layanan tersebut beroperasi di sejumlah wilayah strategis, yakni Jakarta, Lhokseumawe, Aceh, dan Banyuwangi, Jawa Timur, sekaligus menegaskan posisi PTP Nonpetikemas sebagai mitra logistik migas yang andal dengan komitmen kuat terhadap aspek keselamatan kerja dan lingkungan.


(Redaksi MBN.Com/Corcom PTP Nonpetiikemas).

Pelindo Permudah Permintaan Layanan Air Kapal di Pelabuhan Tanjung Priok dalam Sistem Phinnisi




TANJUNG PRIOK (Media Bisnis Nasional.com) - Hari Kamis, Kemarin, 22 Januari 2026, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Tanjung Priok menggelar kegiatan Sosialisasi Permintaan Pelayanan Air Bersih untuk Kapal melalui Sistem Phinnisi yang berlangsung di Gedung Kantor Cabang Tanjung Priok Lantai 9. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan tata kelola layanan kepelabuhanan berbasis sistem terintegrasi, sekaligus memastikan kepastian prosedur bagi para pengguna jasa.


Acara dibuka dengan sambutan Executive General Manager PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Tanjung Priok, Yandri Trisaputra, dilanjutkan pemaparan dari tim PT ILCS terkait pengembangan sistem pelayanan air bersih di lingkungan Pelabuhan Tanjung Priok. Sosialisasi ini dihadiri oleh perwakilan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok, Ketua DPC INSA JAYA, Andi Patonangi beserta jajaran pengurus, serta sejumlah Perusahaan Pelayaran yang beroperasi di Pelabuhan Tanjung Priok.


Dalam sambutannya, Yandri menyampaikan bahwa implementasi permintaan layanan air bersih melalui Sistem Phinnisi merupakan Langkah strategis untuk menghadirkan pelayanan yang transparan, akuntabel, dan mudah diakses. “Sistem Phinnisi memungkinkan permintaan pelayanan air kapal disampaikan secara terintegrasi, mulai dari pengajuan hingga verifikasi realisasi, sehingga memberikan kepastian layanan dan efisiensi operasional bagi pengguna jasa” ujarnya.


Melalui kegiatan sosialisasi ini, Pelindo Regional 2 Tanjung Priok berharap seluruh pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang selaras terkait alur permintaan dan pelaksanaan pelayanan air bersih melalui Sistem Phinnisi. Keselarasan tersebut diharapkan mampu mendukung kelancaran arus kapal, meningkatkan kualitas layanan kepelabuhanan, serta memperkuat kepercayaan pengguna jasa terhadap layanan Pelabuhan Tanjung Priok.


(Redaksi MBN.Com/Humas Pelindo Regional 2 Tg.Priok).

TPS Surabaya Luncurkan Mechanic Smart Assistant (MSA), Dorong Efisiensi Perawatan Alat Berbasis Teknologi Al

 


SURABAYA (Media Bisnis Nasional.com, 23/1/2026) - PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) yang merupakan anak perusahaan dari Subholding Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) meluncurkan inovasi digital bernama Mechanic Smart Assistant (MSA), sebuah platform berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/Al) yang dirancang untuk mempercepat proses diagnosis fault code dan event code pada peralatan Rubber Tyred Gantry (RTG). Container Crane (CC), dan Mechanical Equipment (ME), Peluncuran ini dilaksanakan pada saat acara Expo Inovasi SPTP hari Jum'at (24/1) di Lobby Pelindo Place Office Tower, Surabaya. Inovasi dari TPS ini masuk 6 Besar atau The Best Six SPTP Group dari 30 nominasi terbaik.


Inovasi ini diluncurkan sebagai upaya perusahaan meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi potensi kerugian akibat downtime alat. Selama ini, mekanik membutuhkan waktu 30-60 menit untuk menelusuri arti failure code melalui manual book atau database yang terpisah, Kondisi tersebut menimbulkan inefisiensi waktu yang dapat mencapai 6,45 jam per bulan, dengan estimasi potensi kerugian mencapai Rp. 354,6 juta per tahun.


MSA dikembangkan dari pengalaman mekanik di lapangan yang menghadapi berbagai jenis gangguan teknis secara bersamaan. Platform ini menyediakan akses informasi teknis alat secara cepat melalui perangkat mobile maupun komputer.


"Mekanik sering mengalami kesulitan dalam mencari arti kode gangguan MSA mempermudah proses itu menjadi jauh lebih cepat ujar Sukarsono, Leader Shift Group D RTG TPS.


Dengan MSA, waktu diagnosis masalah kini dapat dilakukan dalam kurang dari dua menit. Kehadiran MSA dinilai mendukung percepatan learning time mekanik, terutama generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi digital. Sistem yang sebelumnya membutuhkan lebih dari enam bulan pembelajaran kini dipangkas menjadi kurang dari tiga bulan.


MSA disiapkan untuk menjadi bagian dari program transformasi digital perusahaan, khususnya dalam standardisasi proses Preventive dan Predictive Maintenance. TPS merancang roadmap pengembangan MSA dalam empat tahap, yaitu Tahap 1 membutuhkan waktu 3-6 bulan untuk implementasi awal alat RTG dengan chatbot dan basis data terbatas. Tahap 2 yang disebut Produk Lengkap membutuhkan waktu 6-12 bulan untuk penguatan knowledge base dan peningkatan fitur diagnosis. Tahap 4 disebut dengan Roll Out butuh 1-3 tahun untuk ekspansi ke RTG, CC dan ME dengan kapasitas server lebih besar. Tahap 4 disebut Komersialisasi butuh waktu 3-5 tahun untuk implementasi luas di Pelindo Group dan potensi bisnis.

Pengembangan dilakukan dengan memperhitungkan mitigasi riziko seperti kesalahan interpretasi data, validasi solusi, dan kebutuhan standarisasi knowledge base. Sistem juga dirancang menggunakan teknologi Al mutakhir berbasis Retrieval-Augmented Generation (RAG) untuk meminimalkan tingkat kesalahan.


Implementasi MSA memberikan sejumlah manfaat strategis, antara lain pengurangan downtime atau waktu henti alat, percepatan proses perbaikan, standarisasi langkah troubleshooting mekanik, dokumentasi solusi secara digital, dukungan terhadap kegiatan Predictive Maintenance (PDM), peningkatan akurasi dan konsistensi keputusan teknis.


Selain itu, platform ini dinilai mudah direplikasi dan dapat menjadi model pengembangan teknologi di lingkungan Pelindo Group. MSA merupakan hasil kolaborasi antara mekanik dan tenaga ahli IT TPS. Tim pengembang terdiri dari Aris Setya Yuwana, Dodo Kresno, Zeffry Bagus, Agus Triyono dan Ikhsan Efendi. MSA diformulasikan untuk menjadi "pendamping digital" mekanik dalam mempercepat proses perbaikan peralatan.


Plh. Sekretaris Perusahaan TPS, Adhi Kresna Novianto, menyampaikan bahwa peluncuran Mechanic Smart Assistant (MSA) merupakan langkah strategis TPS dalam mempercepat transformasi digital sekaligus meningkatkan keandalan operasional terminal. Selama ini, tantangan terbesar dalam proses perawatan alat adalah lamanya waktu yang dibutuhkan mekanik untuk mengidentifikasi kode gangguan. Dengan hadimya MSA, proses diagnosis yang sebelumnya memakan waktu hingga satu jam kini dapat dilakukan dalam hitungan menit. Ini membenkan efisiensi yang sangat signifikan bagi kelancaran operasional TPS.


"MSA tidak hanya menjawab kebutuhan teknis di lapangan, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen TPS üntuk mengembangkan budaya kerja yang lebih modern, adaptif dan berbasis teknologi. Dengan integrasi kecerdasan buatan, kami memastikan mekanik memiliki akses cepat terhadap informasi teknis yang akurat dan terstandar. Hal ini juga sejalan dengan kebutuhan generasi mekanik saat ini yang lebih akrab dengan perangkat digital," ujarnya.


"Keberhasilan MSA masuk dalam jajaran The Best Sixinovasi di lingkungan Subholding Pelindo Terminal Petikemas merupakan bukti bahwa inovasi ini relevan, solutif dan memiliki potensi pengembangan yang luas ke depan. Kami optimistis MSA dapat direplikasi di unit Pelindo Group lainnya serta menjadi model pengembangan teknologi yang mendukung produktivitas dan keselamatan kerja. TPS akan terus mendorong inovasi yang memberikan dampak langsung bagi pelanggan dan pemangku kepentingan. MSA adalah bagian dari langkah berkelanjutan kami dalam memastikan operasional terminal berjalan lebih efisien, lebih aman dan lebih berdaya saing di era digital," tambahnya.


(Redaksi MBN.Com).