Pages

Kamis, Januari 22, 2026

Perkuat Daya Saing Global, Kemenperin–HKI Dorong Pengembangan Kawasan Industri




Media Bisnis Nasional, Jakarta 23 Januari 2026 - Sejak awal pembangunan industri nasional, kawasan industri telah memainkan peran penting dalam mempercepat transformasi industri nasional. Selain menyediakan lahan, kawasan industri kini berkembang menjadi ekosistem terintegrasi yang mendukung hilirisasi, peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, hingga daya saing industri nasional di tingkat global. Perkembangan tersebut menjadikan kawasan industri sebagai salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia.


“Kawasan industri telah bertransformasi menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi melalui penguatan hilirisasi, peningkatan nilai tambah, serta penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam sambutannya di Jakarta (22/1).


Hingga saat ini, tercatat sebanyak 175 kawasan industri telah memiliki Izin Usaha Kawasan Industri (IUKI) dengan total luas lahan mencapai 98.235,5 hektare dan tingkat okupansi sebesar 58,19 persen. Keberadaan kawasan industri tersebut berkontribusi sebesar 9,44 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional Triwulan III Tahun 2025 serta menyumbang pertumbuhan ekonomi sebesar 0,67 persen.


Dalam lima tahun terakhir, jumlah kawasan industri meningkat signifikan dengan penambahan 57 kawasan industri atau tumbuh sebesar 48,3 persen. Selain itu, terdapat 11.970 perusahaan industri yang beroperasi di kawasan industri dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 2,35 juta orang serta total investasi yang berhasil dihimpun mencapai Rp6.744,5 triliun.


Di tengah tantangan ekonomi global, peran dan daya saing kawasan industri menjadi kunci untuk menarik investasi industri yang berkualitas dan bernilai tambah tinggi. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah sebagai regulator dan HKI sebagai representasi para pengelola kawasan industri menjadi hal yang penting.


“Kami memandang HKI sebagai mitra strategis dalam perumusan kebijakan yang bertujuan mengoptimalkan peran Kawasan Industri dalam misi industrialisasi nasional, sekaligus memastikan kebijakan di sektor kawasan industri dapat dilaksanakan secara efektif di lapangan,” ungkapnya.


Sejalan dengan itu, Kementerian Perindustrian tengah melakukan penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kawasan Industri yang diinisiasi oleh DPR RI. Menperin menuturkan, dalam proses penyusunannya, diharapkan dukungan HKI dan seluruh pengelola Kawasan Industri melalui penyampaian masukan yang konstruktif.


“Substansi dari RUU tersebut akan menjelaskan tentang masalah-masalah yang selama ini dihadapi oleh Kawasan Industri. Dalam hasil rapat kami, terdapat delapan pengelompokan masalah, yang kami harapkan delapan masalah itu bisa terjawab dalam undang-undang KI. Mudah-mudahan akan diketok oleh DPR secepatnya,” jelas Menperin.


Dalam mendukung pengembangan kawasan industri, Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian memiliki tugas dan fungsi strategis dalam perumusan kebijakan kawasan industri, fasilitasi perizinan dan investasi, peningkatan daya saing kawasan, serta penguatan keterkaitan kawasan industri dengan rantai pasok nasional dan global.


“Peran tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional dalam Asta Cita, khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, memperkuat struktur industri, serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global melalui pengembangan kawasan industri yang berkelanjutan,” kata Direktur Jenderal KPAII Tri Supondy.


Sejalan dengan implementasi Asta Cita tersebut, pelantikan Dewan Pengurus Harian (DPH) Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Periode 2025–2029 menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan para pengelola kawasan industri.


Melalui sinergi antara pemerintah dan para pemangku kepentingan kawasan industri, diharapkan kawasan industri Indonesia mampu terus tumbuh sebagai penggerak utama industrialisasi nasional dan magnet investasi yang berkualitas.


Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Akhmad Ma’ruf Maulana menyampaikan komitmen HKI untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam menjaga iklim investasi yang kondusif.


“HKI siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong kawasan industri yang berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu menjawab tantangan ekonomi global, sejalan dengan arah kebijakan Kemenperin,” katanya


(S. Hendhry S.) .


Tegaskan Peran Sebagai Mitra Investasi Jangka Panjang, Danantara Indonesia Hadir Perdana di World Economic Forum



Media Bisnis Nasional, Jakarta, 22 Januari 2026 — Danantara Indonesia untuk pertama kalinya akan hadir di World  Economic Forum (WEF) 2026, sebuah forum globaltahunan penting yang memfasilitasi diskusi  dan kolaborasi global dalam menghadapi dinamika ekonomi, politik, dan lingkungan saat ini. Sebagai badan pengelola investasi negara, kehadiran Danantara Indonesia dalam WEF di Davos, Swiss, mencerminkan strategi jangka panjang Indonesia untuk memperkuat perannya dalam arsitektur ekonomi global.


Sebagaimana diketahui, Danantara Indonesia akan hadir di Davos untuk mendampingi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Kehadiran Presiden Indonesia ini menjadi kali pertama dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir. WEF juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Danantara Indonesia, yang diluncurkan pada tahun 2025, kepada pelakupelaku penting global.


CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani menegaskan partisipasi ini diarahkan untuk membangun kemitraan strategis dengan pemangku kepentingan global, memobilisasi modal secara selektif, serta mendorong investasi berkualitas yang memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional.


Rosan mengatakan, “Kehadiran Danantara Indonesia di World Economic Forum ini merupakan bagian dari komitmen untuk membangun kemitraan global yang berlandaskan tata kelola yang kuat dan kualitas investasi yang tinggi. Melalui partisipasi ini, keberadaan Indonesia di WEF tahun ini mempunyai pendekatan yang lebih terpadu antara kebijakan, investasi strategis, dan dunia usaha.”


Rosan menjelaskan bahwa kehadiran Danantara Indonesia di WEF 2026 membawa perspektif investasi dan perekonomian dari pasar berkembang yang berada di garis depan perubahan global. Menurut Rosan, Indonesia menghadapi langsung tantangan perubahan iklim, dinamika demografi, serta kebutuhan akan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. "Dalam konteks inilah Danantara Indonesia memosisikan diri tidak hanya sebagai investor, tetapi sebagai pemain strategis dan mitra jangka panjang dalam membangun ketahanan ekonomi dan sosial," ujarnya.


Lebih lanjut, Rosan memastikan bahwa setiap kolaborasi yang dibangun tidak hanya menarik secara finansial, tetapi juga harus relevan dan berkontribusi langsung pada transformasi ekonomi Indonesia. Ia mengatakan, saat ini fokus investasi Danantara Indonesia berangkat dari kebutuhan riil Indonesia dan selaras dengan agenda global. Prioritas tersebut mencakup penguatan mineral kritis dan keamanan rantai pasok, percepatan transisi energi, peningkatan ketahanan pangan dan kesehatan, pengembangan infrastruktur digital, serta penciptaan peluang ekonomi bagi populasi muda yang terus tumbuh.


Melalui partisipasi di WEF 2026, Indonesia akan melakukan serangkaian pertemuan strategis dengan pimpinan negara, investor institusional, sovereign wealth fund lainnya, serta berbagai lembaga keuangan dan ekonomi global. Dialog ini difokuskan pada penjajakan kolaborasi yang terukur, transparan, dan sejalan dengan prioritas pembangunan Indonesia, sekaligus menjawab kebutuhan global akan investasi yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

 

Partisipasi Danantara Indonesia di WEF 2026, seiring dengan kehadiran Presiden Prabowo Subianto, menegaskan komitmen Indonesia terhadap keterbukaan, kolaborasi global, dan investasi jangka panjang yang berkelanjutan. Danantara Indonesia berperan sebagai platform yang menjembatani kepentingan nasional dengan arus modal global, memastikan setiap kemitraan dibangun secara selektif dan memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi ekonomi Indonesia.


“Partisipasi Danantara ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra investasi yang kredibel, berorientasi jangka panjang, dan berkontribusi aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi global yang berkelanjutan,” kata Rosan.


(S. HENDHRY S.).


Dukung Swasembada Pangan, Kemenperin Pertemukan Industri Produsen dan Pengguna Pati Ubi Kayu




Media Bisnis Nasional, Jakarta 23 Januari 2026 - Kementerian Perindustrian terus memacu pengembangan usaha dan peningkatan daya saing industri pati ubi kayu melalui diversifikasi spesifikasi, subtitusi impor, dan penguatan rantai pasok. Sebagai wujud komitmen untuk memperluas pasar industri pati ubi kayu nasional, Kemenperin bersama dengan Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) menggelar Business Matching Pati Ubi Kayu pada 22 Januari 2026.


Langkah ini bertujuan untuk memastikan kebutuhan industri pati ubi kayu dapat dipenuhi secara optimal oleh produk dalam negeri melalui upaya mempertemukan industri produsen dengan industri pengguna dalam forum Business Matching. Inisiatif tersebut sejalan dengan salah satu key point Strategi Besar Industri Nasional (SBIN) yang berlandaskan pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yakni penguatan backward–forward linkage guna menciptakan rantai nilai industri yang terintegrasi dan efisien. Sebagai perwujudan pelaksanaan SBIN tersebut, Kemenperin mengakselerasi industrialisasi berbasis sumber daya alam melalui penguatan keterkaitan hulu–hilir pada komoditas strategis pati ubi kayu.


“Saat ini terdapat 125 perusahaan pati ubi kayu dengan tingkat utilisasi 43 persen dan telah menguasai pasar dalam negeri mencapai 79 persen. Kami optimis industri pati ubi kayu dapat ditingkatkan kembali dan mampu melakukan penetrasi pasar lebih luas lagi,” ungkap Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam sambutannya pada Pembukaan Business Matching Pati Ubi Kayu di Jakarta, Kamis (22/01).


Pati ubi kayu merupakan komoditas strategis dan memiliki nilai tambah yang tinggi. Komoditas ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk pangan seperti pemanis, bumbu, makanan tingan dan mie. Sementara untuk non pangan, pati ubi kayu dapat dimanfaatkan untuk produk kertas, bahan kimia, dan ethanol.


Sektor ini turut mencatatkan prestasi yang baik dengan meningkatnya nilai ekspor pati ubi kayu hingga mencapai US$ 18,7 juta pada bulan November 2025 atau naik hingga 58,34 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya.


Namun meskipun sektor tersebut memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan penguatan industri nasional, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Tantangan tersebut antara lain persaingan harga dan mutu dengan produk impor. “Untuk menjawab hal itu, Kemenperin mendorong penguatan sinergi antara produsen pati ubi kayu dan industri pengguna, salah satunya melalui penerapan mekanisme Neraca Komoditas (NK),” tambah Menperin.


Menperin juga menyampaikan harapannya agar industri pati ubi kayu dalam negeri dapat melakukan diversifikasi atas spesifikasi yang diperlukan oleh industri pengguna. Karenanya, Menperin menyampaikan apresiasi atas upaya pelaku industri penghasil dan pengguna pati ubi kayu dalam meningkatkan kinerja, memperluas akses pasar, serta mengoptimalkan pemanfaatan bakan baku dan produk dalam negeri.


Kegiatan Business Matching Pati Ubi Kayu ini melibatkan 17 industri pati ubi kayu yang berlokasi di Provinsi Lampung, dan 51 calon buyer yang terdiri dari dua asosiasi industri dan 49 industri pengguna ubi kayu di sektor pangan, antara lain pemanis, bumbu, makanan ringan dan mie instan, serta non pangan seperti kertas, bahan kimia, dan ethanol. Dengan skema pertemuan bisnis one-on-one antara industri produsen dengan pengguna pati ubi kayu yang terbagi dalam tiga sesi.


Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika turut menyampaikan apresiasinya terhadap industri produsen dan pengguna atas upayanya dalam meningkatkan nilai tambah pati ubi kayu. “Kami harap kemitraan antara industri produsen dan pengguna pati ubi kayu dapat terus terjalin hingga kemandirian industri dalam negeri dapat terus meningkat,” tambahnya.


Gubernur Provinsi Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan komitmennya dalam memacu Lampung menjadi pusat diversifikasi industri tapioka. “Kami ingin industri tapioka di Lampung tidak hanya pada produk konvensional, namun juga berkembang pada berbagai produk turunan bernilai tambah yang tinggi.  Melalui Business Matching ini, kami harap akan melahirkan komitmen yang nyata, kemitraan jangka panjang, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional” pungkasnya.


(S.Hemdrhy S.).

Indonesia Partner Country INNOPROM 2026, Momentum Tunjukkan Daya Saing Industri Nasional


Media Bisnis Nasional, Jakarta 23 Januari 2026
- Indonesia resmi menjadi Partner Country pada gelaran Industrial International Exhibition (INNOPROM) 2026, pameran industri internasional bergengsi yang akan diselenggarakan pada 6–9 Juli 2026 di Yekaterinburg, Rusia. Penetapan ini menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk menunjukkan kemampuan, daya saing, serta kesiapan industri nasional di hadapan dunia.


INNOPROM merupakan pameran industri internasional yang menjadi etalase inovasi, teknologi, dan kerja sama industri global, serta mempertemukan pelaku industri, investor, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara. Sejak digelar pertama kali pada 2010, INNOPROM dikenal sebagai pameran industri terbesar di kawasan Asia Tengah dan Eurasia, dengan melibatkan hampir 1.000 exhibitor dan menempati area seluas 50.000 meter persegi.


Hubungan kerja sama industri antara Indonesia dan Federasi Rusia selama ini telah terjalin kuat dan mencakup berbagai sektor strategis. Kerja sama tersebut meliputi industri pupuk, farmasi dan alat kesehatan, metalurgi, galangan kapal, industri krisotil, serta pengembangan industri halal. Fondasi kerja sama ini menjadi modal penting bagi Indonesia dalam memaksimalkan peran sebagai Partner Country pada INNOPROM 2026.


Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa partisipasi Indonesia sebagai Partner Country INNOPROM 2026 merupakan langkah strategis untuk memperkuat branding nasional sebagai negara industri yang kompetitif, inovatif, dan terbuka terhadap kolaborasi internasional.


“Partisipasi Indonesia sebagai Partner Country INNOPROM 2026 merupakan momentum penting untuk menunjukkan kemampuan dan daya saing industri nasional di hadapan dunia. Indonesia ingin hadir bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai mitra strategis yang menampilkan komitmen terhadap inovasi, keberlanjutan, dan pertumbuhan industri yang inklusif,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Kamis(22/1).


Sebagai Partner Country, Indonesia akan menampilkan produk manufaktur unggulan, potensi investasi, serta peluang kemitraan di berbagai sektor prioritas, sekaligus mempromosikan Indonesia sebagai pusat manufaktur dan inovasi di kawasan. Kehadiran Indonesia juga diarahkan untuk memperluas akses pasar nontradisional, khususnya ke Rusia dan negara-negara Commonwealth of Independent States (CIS).


“INNOPROM menjadi platform strategis untuk memperluas akses pasar dan memperdalam kerja sama industri Indonesia dengan mitra internasional, khususnya Rusia dan kawasan Eurasia. Melalui forum ini, Indonesia dapat memperkenalkan kapabilitas industrinya sekaligus membuka peluang investasi dan kemitraan yang saling menguntungkan,” jelas Menperin.


Sebagai bagian dari rangkaian persiapan menuju INNOPROM 2026, Kementerian Perindustrian dengan dukungan KBRI Moskow telah menyelenggarakan Indonesia–Russia Business Matching: Road to INNOPROM 2026 di Moskow. Kegiatan ini dimanfaatkan untuk mempercepat penyelesaian sejumlah nota kesepahaman strategis di bidang industri serta menyelaraskan agenda kerja sama antara pelaku industri Indonesia dan mitra Rusia.


Dalam kerangka penguatan kerja sama bilateral, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia juga telah menyepakati sejumlah nota kesepahaman di sektor industri strategis, antara lain kerja sama di bidang galangan kapal dan penelitian ilmiah terkait keamanan penggunaan krisotil, serta kerja sama industri lainnya yang masih dalam tahap finalisasi. Kesepakatan ini mencerminkan komitmen kedua negara dalam mendorong kolaborasi industri berbasis nilai tambah dan transfer teknologi.


Dukungan terhadap partisipasi Indonesia di INNOPROM 2026 juga datang dari Pemerintah Rusia melalui Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia serta penyelenggara INNOPROM, Formika Event, yang menyatakan komitmen untuk memperkuat kerja sama industri yang saling menguntungkan, termasuk di bidang teknologi, energi, transportasi, dan digitalisasi industri.


Melalui INNOPROM 2026, Indonesia menegaskan posisinya sebagai negara industri yang tidak hanya mengandalkan sumber daya alam, tetapi juga mengedepankan nilai tambah, inovasi, dan solusi industri berkelanjutan untuk pasar global.


(S. Hendrhy S.).

Danantara promosikan tiga proyek unggulan di World Economic Forum 2026



Media Bisnis Nasional, Jakarta 22 Januari 2026 - Jakarta (ANTARA) - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia memperkenalkan tiga proyek investasi unggulan, yakni pengelolaan limbah menjadi energi (waste-to-energy), pembangunan Kampung Haji, serta pengembangan produk obat turunan plasma dalam World Economic Forum (WEF) 2026.


Managing Director of Investment Danantara Indonesia Stefanus Ade Hadiwidjaja menyampaikan dalam sesi diskusi panel di Davos, Swiss, Selasa, bahwa ketiga proyek tersebut termasuk dari 30-40 kesepakatan investasi yang tengah dikembangkan oleh pihaknya.


“Apa yang kami ingin capai dalam 1-2 tahun ke depan, yang pertama, kami mengembangkan pengelolaan sampah menjadi energi (waste-to-energy) berskala nasional,” kata Stefanus Ade Hadiwidjaja, seperti yang disaksikan melalui kanal YouTube Kementerian Investasi dan Hilirisasi dari Jakarta, Selasa.


Ia menuturkan, proyek tersebut ditargetkan untuk diimplementasikan di 30 kota di seluruh Indonesia, mengingat pengelolaan sampah kini menjadi persoalan yang penting untuk diselesaikan, terutama di berbagai kota besar.


Ia mengatakan, pihaknya pun telah berdiskusi dengan Kamar Dagang Swiss (Swiss Chamber of Commerce) mengenai potensi kerja sama dalam proyek tersebut.


“Melalui investasi ini, kami ingin mengatasi masalah sampah dan lingkungan di Indonesia, sekaligus membawa operator global untuk berinvestasi, sehingga (waste-to-energy) ini bisa menjadi bisnis yang berkelanjutan dengan imbal hasil yang baik,” ujar Stefanus.


Proyek kedua terkait dengan sektor kesehatan, yakni pengembangan produk obat turunan plasma (plasma-derived medicinal products) berbasis plasma darah manusia. Kemudian, inisiatif ketiga adalah proyek Kampung Haji di Mekah, Arab Saudi.


Stefanus menyatakan, pihaknya telah mulai berinvestasi pada sejumlah lokasi di Mekah untuk mengembangkan fasilitas yang melayani jemaah haji dan umrah asal Indonesia.


"Proyek ini penting karena kami mengirim jumlah jemaah umrah dan haji terbesar ke Arab Saudi, di Mekah, dan kini kami memiliki kesempatan untuk mengembangkan Kampung Haji guna memberikan pengalaman yang lebih berkualitas bagi jemaah," ucapnya.


Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyebutkan kehadiran Indonesia dalam Annual Meeting World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, merupakan bagian dari strategi konsisten diplomasi ekonomi pemerintah di tingkat internasional untuk memacu daya saing berbagai sektor perekonomian nasional.


Partisipasi Indonesia dalam forum yang digelar pada 19-22 Januari 2026 tersebut melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Danantara Indonesia, serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.


(S.Hendhry. S./***Antara).

Terminal Petikemas Surabaya Terima Kunjungan dari ISD Untuk Perkuat Konektivitas Rantai Logistik Industri Kelapa Indonesia Timur


 

SURABAYA (Media Bisnis Nasional.com) - PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) yang merupakan anak perusahaan dari Subholding Pelindo Terminal Petikemas (SPTP), menerima kunjungan dari Indonesia Service Dialogue (ISD), sebuah lembaga dialog kebijakan yang berfokus pada penguatan sektor jasa dan logistik nasional. Kunjungan ini diterima langsung oleh Direktur Operasi TPS, Noor Budiwan, pada Kamis (22/1/2026) di Kantor TPS, Jalan Tanjung Mutiara 1 Surabaya.



Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama ISD dengan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) dan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dalam inisiatif kajian dan pengembangan industri kelapa di Indonesia Timur, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT). 



Melalui kerja sama tersebut, ISD dan para mitra berupaya mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam rantai nilai industri kelapa, mulai dari produksi, pengolahan, hingga distribusi dan logistik. Tujuannya adalah meningkatkan daya saing komoditas kelapa Indonesia Timur, baik di pasar domestik maupun internasional.



Sebagai salah satu hub logistik terbesar di Indonesia, Surabaya dipandang memiliki peran strategis dalam pergerakan barang dari Kawasan Timur Indonesia menuju Pulau Jawa dan wilayah lainnya. Oleh karena itu, audiensi dengan PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) diharapkan dapat membuka ruang diskusi terkait potensi peningkatan efisiensi logistik komoditas kelapa dan dukungan operasional lainnya. 



Plh. Sekretaris Perusahaan TPS, Adhi Kresna Novianto, menyampaikan bahwa TPS menyambut baik kunjungan dan inisiatif kolaboratif dari Indonesia Services Dialogue (ISD) dalam upaya memperkuat konektivitas rantai logistik komoditas kelapa dari Indonesia Timur. “Sebagai bagian dari Subholding Pelindo Terminal Petikemas, kami memahami bahwa Surabaya memegang peranan strategis sebagai pintu gerbang distribusi kawasan timur, sehingga kerja sama dan dialog seperti ini sangat penting untuk terus mendorong efisiensi dan peningkatan daya saing logistik nasional,” ujarnya.



“Melalui audiensi dan diskusi yang berlangsung, kami melihat adanya potensi sinergi yang dapat memberikan dampak positif, tidak hanya pada penguatan rantai nilai industri kelapa, tetapi juga pada peningkatan kualitas layanan logistik yang lebih terintegrasi. TPS berkomitmen untuk memberikan dukungan optimal sesuai kapasitas dan mandat kami, termasuk koordinasi operasional dan aspek keselamatan kerja, demi memastikan kelancaran arus barang dan keberlanjutan ekosistem logistik di Indonesia,” tambahnya. 



(Redaksi MBN.Com/Corcom TPS Surabaya).

 

Arus Peti Kemas 2025 Meningkat, Terminal Peti Kemas Ambon Optimalkan Layanan Logistik Kawasan Timur




Ambon (Media Bisnis Nasional.com) - Terminal Peti Kemas (TPK) Ambon mencatat capaian positif sepanjang tahun 2025 dengan realisasi arus peti kemas sebesar 112.502 TEUs, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 108.528 TEUs. Capaian ini menegaskan peran strategis TPK Ambon dalam mendukung kelancaran logistik serta konektivitas wilayah Maluku dan Indonesia Timur.


Sebagai salah satu simpul penting jaringan logistik kawasan timur Indonesia, TPK Ambon terus berupaya meningkatkan keandalan layanan guna memastikan distribusi barang antarpulau berjalan lebih efisien dan berkelanjutan.


Terminal Head TPK Ambon, Yandi Sofyan Hadi, menyampaikan bahwa peningkatan arus peti kemas tersebut merupakan hasil dari transformasi operasional yang berorientasi pada penguatan peran terminal dalam sistem logistik regional.


“Capaian arus peti kemas tahun 2025 menunjukkan bahwa TPK Ambon semakin berperan dalam menjaga kelancaran arus logistik di Maluku dan Indonesia Timur. Melalui program transformasi operasional, kami berupaya menghadirkan layanan yang lebih efisien, andal, dan kompetitif,” ujar Yandi.


Lebih lanjut, Yandi menegaskan komitmen perusahaan untuk terus memperkuat peran TPK Ambon sebagai penopang logistik kawasan timur Indonesia. “Pada tahun 2026, kami akan melanjutkan berbagai upaya peningkatan, termasuk penguatan digitalisasi layanan, peningkatan efisiensi operasional, dan pengembangan kapasitas SDM. Langkah ini kami lakukan untuk mendukung pertumbuhan logistik Maluku dan Indonesia Timur secara berkelanjutan,” tambahnya.


Sepanjang tahun 2025, perusahaan menjalankan program transformasi yang mencakup optimalisasi proses bongkar muat, peningkatan keandalan peralatan operasional, serta penguatan kompetensi sumber daya manusia. Upaya tersebut berdampak pada peningkatan kinerja operasional terminal, yang tercermin dari naiknya Box Ship Hour (BSH) dan produktivitas pelayanan kapal.


Pertumbuhan arus peti kemas juga dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas perdagangan dan distribusi barang di kawasan Maluku, stabilitas operasional terminal, serta sinergi yang solid dengan perusahaan pelayaran dan para pemangku kepentingan terkait.


Ketua DPW ALFI/ILFA Provinsi Maluku, H.B. Sirait, mengapresiasi capaian TPK Ambon sepanjang tahun 2025. Menurutnya, pertumbuhan arus peti kemas tersebut merupakan hasil konsistensi dan kerja keras sebagai operator, serta kesiapan peralatan bongkar muat yang terus terjaga, baik di sisi kapal maupun di lapangan. 


“Kami melihat PT Pelindo Terminal Petikemas Ambon bekerja konsisten menjaga kinerja dan kesiapan alat bongkar muat, baik di kapal maupun di darat, sehingga arus peti kemas 2025 dapat tumbuh positif,” ujar H.B. Sirait.


Dengan capaian tersebut, TPK Ambon optimistis dapat terus berkontribusi dalam memperkuat konektivitas logistik, mendukung aktivitas ekonomi regional, serta mendorong pemerataan pembangunan di Indonesia Timur.



Tentang PT Pelindo Terminal Petikemas


PT Pelindo Terminal Petikemas merupakan bagian dari grup usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo yang berperan sebagai subholding pengelola bisnis terminal peti kemas. Perusahaan dibentuk pasca integrasi Pelindo sejak 1 Oktober 2021 dan saat ini mengelola 32 terminal peti kemas di berbagai wilayah strategis Indonesia serta didukung oleh 7 anak perusahaan. Dengan jaringan terminal yang luas dan terintegrasi, perusahaan berkomitmen untuk menghadirkan layanan kepelabuhanan yang andal, efisien dan berstandar internasional.



(Redaksi MBN.Com).