Pages

Kamis, Januari 15, 2026

TPK Bitung atau Terminal Peti Kemas Bitung Tumbuh Solid di 2025, Kinerja Lampaui Target dan Optimistis Hadapi 2026

 

 


BITUNG (Media Bisnis Nasional.com) — Terminal Peti Kemas (TPK) Bitung menutup tahun 2025 dengan kinerja positif dan pertumbuhan arus petikemas yang melampaui target serta meningkat menjadi 104,04% secara year-on-year (YoY). Capaian ini menegaskan peran TPK Bitung sebagai simpul logistik strategis di Sulawesi Utara dan Kawasan Timur Indonesia.


Terminal Head TPK Bitung, Jusri, menyampaikan bahwa pada tahun 2025 arus peti kemas tercatat sejumlah 292.038 TEUs, dimana angka ini meningkat dibanding capaian tahun 2024 yang mencapai 280.699 TEUs.


“Capaian 2025 menjadi bukti komitmen kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan menjaga kepercayaan pelanggan. TPK Bitung tidak hanya bertumbuh dari sisi volume, tetapi juga dari sisi keandalan operasional,” ujar Jusri.


Sepanjang 2025, TPK Bitung terus berfokus pada keandalan layanan dan perbaikan kinerja operasional. Meski sempat menghadapi tantangan kesiapan peralatan di pertengahan tahun, manajemen melakukan langkah cepat dan terukur melalui penguatan perencanaan operasi, percepatan perbaikan peralatan, optimalisasi sistem layanan berbasis digital, serta kolaborasi dengan perusahaan pelayaran, asosiasi dan pemangku kepentingan pelabuhan. Upaya tersebut berhasil menjaga kelancaran pelayanan di sisi dermaga maupun lapangan penumpukan.


Pertumbuhan arus petikemas juga mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi dan distribusi barang di wilayah Bitung, Manado, dan sekitarnya. Komoditas unggulan daerah seperti produk perikanan, kelapa dan turunannya, serta produk industri lainnya semakin banyak menggunakan petikemas, termasuk reefer container. Selain itu, aktivitas transhipment ke wilayah Ternate, Tangkiang, dan Gorontalo turut berkontribusi pada peningkatan volume terminal.


Capaian kinerja Terminal Petikemas Bitung tersebut selaras dengan tren positif perekonomian regional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara menunjukkan aktivitas perdagangan luar negeri yang tetap tumbuh sepanjang 2025, ditandai dengan kinerja ekspor daerah yang meningkat dan kondisi neraca perdagangan yang relatif terjaga. Kondisi ini memperkuat bahwa pertumbuhan terminal berjalan seiring dengan dinamika ekonomi Sulawesi Utara.


Ella pemilik PT Rossela salah satu perusahaan JPT mitra kerja TPK Bitung menyampaikan apresiasi dan kesediaannya untuk terus memberikan masukan yang positif untuk kinerja TPK Bitung dalam mendukung percepatan logistik di wilayah Indonesia Timur.


“TPK Bitung agar dapat terus menjaga serta meningkatkan kualitas daLam menghadapi tantangan operasional,” ujar Ella.


Wakil Ketua DPRD Kota Bitung, Ronald Gunawan Kansil menyatakan bahwa capaian pertumbuhan arus petikemas merupakan gambaran konkret mengenai peningkatan kualitas layanan yang dilakukan oleh TPK Bitung. Hal ini menjadi dasar yang kuat bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang mendukung pengembangan sektor pelabuhan. Politisi partai Gerindra itu juga berharap TPK Bitung menempatkan prioritas pelayanan kepada pengguna jasa, sehingga pencapaian tidak hanya diukur dari meningkatnya volume barang, tapi dari sisi pelayanan yang maksimal.


"Jika pelayanan kepada pengguna jasa dijadikan prioritas utama, pasti pencapaiannya juga akan terus bertumbuh dan menjadikan Terminal Petikemas Bitung sebagai simpul logistik strategis di Indonesia Timur," tukasnya.


Menatap tahun 2026, Terminal Petikemas Bitung menyampaikan optimisme pertumbuhan yang berkelanjutan. Perusahaan telah menyiapkan berbagai langkah lanjutan, mulai dari penguatan predictive maintenance, peningkatan kesiapan peralatan dan sustainability, penataan area operasional, hingga rencana investasi dan penguatan sumber daya manusia. Seluruh upaya ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, kecepatan layanan, dan daya saing terminal.


Dengan fondasi kinerja 2025 yang solid dan dukungan pertumbuhan ekonomi regional, Terminal Petikemas Bitung optimistis dapat terus berkontribusi sebagai penggerak logistik dan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara di tahun-tahun mendatang.


(Redaksi MBN.Com/Corcom SPTP).

 

 

 

 

Perkuat Kompetensi SDM, Pertamina Gandeng ITB Siapkan Insinyur Masa Depan

 






Media Bisnis Nasional, Jakarta, 15 Januari 2026 – PT Pertamina (Persero) terus memperkuat kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai fondasi utama daya saing perusahaan melalui Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).


Pada tahun ini, Pertamina mengikutsertakan 419 perwira (karyawan) Pertamina dari berbagai entitas bisnis, sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam menyiapkan insinyur berkelas dunia yang siap menghadapi transformasi industri energi.


Program PSPPI menjadi instrumen penting dalam pengembangan kompetensi teknis, kepemimpinan, dan profesionalisme perwira, sekaligus memperkuat keunggulan operasional bisnis existing Pertamina dan mendorong inovasi pengembangan bisnis baru, termasuk dalam mendukung transisi energi dan pengembangan green energy.


Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengatakan bahwa Pertamina adalah rumah bagi para insinyur yang telah membangun fondasi ketahanan energi Indonesia selama lebih dari enam dekade. Penguatan kompetensi SDM menjadi strategi utama perusahaan dalam menghadapi transformasi digital dan transisi energi.


“Melalui sinergi Pertamina dengan ITB, kami menyiapkan insinyur yang unggul secara teknis, memiliki daya analisis yang kuat, etika profesional, serta kemampuan adaptif terhadap perubahan,” ujar Simon pada saat membuka Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) di Gedung Sasana Budaya Ganesha ITB, Bandung, Kamis (8/1/2026).


Direktur SDM Pertamina Andy Arvianto mengatakan penguatan kompetensi dan pengembangan SDM merupakan kunci keberlanjutan bisnis dan ketahanan energi nasional, sekaligus menjadi investasi strategis perusahaan di masa depan.


“Pengembangan kompetensi melalui pendidikan profesi merupakan investasi jangka panjang. Kami ingin memastikan setiap perwira memiliki akses yang luas terhadap peningkatan kapasitas diri agar tetap relevan, profesional, dan mampu menjawab kebutuhan bisnis yang terus berkembang. Dukungan dan kolaborasi dengan PSPPI ITB menjadi bagian penting dari strategi penguatan SDM Pertamina,” jelas Andy. 


Sementara itu Rektor Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara menilai program ini sebagai langkah konkret membangun kualitas SDM unggul di sektor energi.


“Program ini tidak hanya memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran, tetapi juga memastikan para insinyur Indonesia memiliki kompetensi teknis kelas dunia, wawasan global, karakter yang kuat, serta menjunjung tinggi etika profesi dan jati diri bangsa,” ungkapnya.


Program profesi Insinyur kolaborasi Pertamina dan ITB dibuka pada 8  Januari 2026, dan program kerja sama ini berlaku untuk 1 tahun ke depan 2 semester akademik. 


Melalui penguatan kompetensi SDM secara berkelanjutan dan kolaborasi strategis dengan akademisi ITB, Pertamina berkomitmen dalam menyiapkan talenta unggul yang adaptif, inovatif dan berdaya saing global. Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya Pertamina dalam menjaga ketahanan energi nasional, mempercepat transisi energi, serta memastikan keberlanjutan bisnis perusahaan dalam menghadapi tantangan masa depan industri energi yang terus berkembang.


Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.danantaraindonesia.co.id/.




(Hendhry). 

Pembangunan Proyek Infrastruktur Energi di Kilang Balikpapan Hadirkan Multiplier Effect Ekonomi, dari Lapangan Kerja hingga UMKM

 






Media Bisnis Nasional, Jakarta, 15 Januari 2026 — PT Pertamina (Persero) berkomitmen menghadirkan manfaat nyata bagi perekonomian nasional. Salah satunya, melalui proyek pembangunan Infrastruktur Energi Terintegrasi di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur. Proyek terintegrasi dari hulu ke hilir tersebut terdiri dari Pipa Gas Senipah, tangki penyimpanan raksasa Lawe-lawe, CDU (Crude Destilation Unit), Fasilitas RFCC (Residual Fluid Catalytic Cracking) Complex, hingga Terminal BBM Tanjung Batu yang diharapkan akan menjadi salah satu penopang distribusi energi bagi masyarakat Indonesia Timur. 


Tak hanya mendorong terpenuhinya energi, pembangunan proyek energi ini turut menggerakkan ekonomi dan bermanfaat bagi masyarakat. Seperti yang dirasakan langsung oleh Yanti, pemilik warung makan di sekitar lokasi Kilang Pertamina. Setiap hari, warung yang menyediakan menu rumahan ini melayani pekerja pembangunan proyek Infrastruktur Energi Terintegrasi di Kalimantan Timur ini. Selama pembangunan proyek berlangsung, jumlah pengunjung meningkat dan pendapatannya dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.


“Alhamdulillah, kita bersyukur. Untuk sehari-hari perputaran ada. Mudah-mudahan pekerja Pertamina, Pertamina Hulu Mahakam, dan yang makan siang tetap bisa datang ke warung sekitar sini walau proses pembangunan telah selesai,” harap Yanti.


Dampak positif serupa juga dirasakan oleh pelaku UMKM lainnya. Ibu Tuti, pemilik Warung Kube Mandiri, di Mekar Sari, Kalimantan Timur. Ia mengungkapkan bahwa pada jam makan siang, warungnya kerap dipadati para pekerja proyek pembangunan kilang Pertamina.


“Makan siang ramai sekali, kadang tempat duduknya juga kurang. Lumayan sekali ada proyek itu dan sangat membantu. Harapannya proyek bisa terus berjalan sehingga yang makan semakin banyak,” ujarnya.


Kebahagiaan pelaku usaha tersebut mencerminkan, pembangunan Proyek Infrastruktur Energi di Kilang Balikpapan, turut menggerakkan roda perekonomian daerah, termasuk peningkatan aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. 


Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron mengungkapkan, keberadaan proyek Pertamina di Kalimantan Timur ini dapat membuka dan memperluas lapangan kerja, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.


Pada fase konstruksi, proyek strategis nasional ini telah menyerap sekitar 24 ribu tenaga kerja, yang sebagian besar berasal dari tenaga kerja dalam negeri. Sementara pada fase operasi, kilang di Kalimantan Timur ini diproyeksikan akan melibatkan sekitar 2.000 tenaga kerja secara langsung, serta menciptakan efek berganda berupa peluang usaha dan lapangan kerja tidak langsung di berbagai sektor pendukung.


“Proyek yang dibangun dan dikembangkan Pertamina tidak hanya berfokus pada penguatan ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan multiplier effect yang nyata bagi masyarakat,” kata Baron.


Selain menggerakkan UMKM, Baron menambahkan bahwa keterlibatan pelaku usaha setempat dalam rantai pasok proyek, penyediaan jasa pendukung, hingga kebutuhan logistik dan konsumsi selama masa konstruksi dan operasi telah memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah Kalimantan Timur secara umum.


Menurut Baron, dalam pelaksanaan pembangunan kilang, Pertamina juga menjaga realisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada kisaran 35 persen. Kebijakan ini merupakan wujud keberpihakan Pertamina terhadap kemampuan industri nasional, baik di sektor manufaktur maupun jasa, agar dapat tumbuh dan berkembang bersama proyek strategis negara. Melalui optimalisasi TKDN, diharapkan menjadi katalis penguatan ekosistem industri dalam negeri serta peningkatan daya saing nasional.


Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.danantaraindonesia.co.id/.



(Hendhry).

Pertamina NRE Gandeng Tiongkok, Dorong Proyek Energi Bersih di Indonesia

 






Media Bisnis Nasional, Suzhou, Tiongkok, 15 Januari 2026 – Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) kembali menunjukkan langkah strategisnya dalam transisi energi nasional dengan menandatangani nota kesepahaman bersama GCL Intelligent Energy (Suzhou) Co., Ltd., perusahaan global di bidang energi bersih dan terbarukan asal Tiongkok.


Penandatanganan dilaksanakan pada Rabu (7/1) berlokasi di Kantor GCL Intelligent Energy, Suzhou, yang diwakili oleh John Anis sebagai Chief Executive Officer Pertamina NRE, dan Zhi Fei, sebagai Chairman of the Board of GCL Intelligent Energy (Suzhou) Co., Ltd.


Kerja sama ini membuka peluang pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga sampah, energi baru dan terbarukan, serta pembangkit listrik berbasis gas di Indonesia, sebagai bagian dari upaya bersama mendukung target penurunan emisi dan ketahanan energi nasional.


CEO Pertamina NRE John Anis menyampaikan bahwa kemitraan ini menjadi langkah nyata dalam membangun ekosistem energi bersih yang berkelanjutan. 


“Kolaborasi dengan GCL merupakan langkah strategis Pertamina NRE untuk mempercepat pengembangan energi bersih di Indonesia. Kami melihat potensi besar untuk mengombinasikan pengalaman global GCL dengan kapabilitas dan pemahaman lokal Pertamina dalam menghadirkan solusi energi yang berkelanjutan dan kompetitif,” ujar John Anis.


Sementara itu, Fei Zhi selaku Chairman of the Board GCL Intelligent Energy (Suzhou) Co., Ltd. menyampaikan apresiasinya atas kunjungan dan kerja sama yang terjalin dengan Pertamina NRE.


“Kami melihat Indonesia sebagai salah satu pasar strategis dalam pengembangan energi bersih global. GCL berharap dapat memanfaatkan momentum percepatan transisi energi di Indonesia untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan bersama Pertamina NRE, khususnya di sektor pembangkit listrik tenaga sampah, integrasi fotovoltaik dan penyimpanan energi, PVT,” ujar Fei Zhi.


Dalam rangkaian kegiatan tersebut, delegasi Pertamina NRE juga melakukan peninjauan langsung ke fasilitas pembangkit listrik waste to energy milik GCL, untuk melihat penerapan teknologi, sistem pengelolaan lingkungan, serta praktik terbaik dalam operasi dan manajemen proyek.


Pertamina NRE optimistis kerja sama ini akan menjadi fondasi penting dalam mendorong inovasi teknologi serta pengembangan model bisnis energi bersih yang dapat diimplementasikan secara nyata di Indonesia dalam memperkuat peran Pertamina sebagai penggerak utama transisi energi nasional demi mencapai NZE 2060.


Senada, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron mengungkapkan, Pertamina mengapresiasi upaya Pertamina NRE dalam mengembangkan industri energi baru dan terbarukan di Tanah Air. Melalui kolaborasi dengan berbagai mitra global yang berpengalaman di industri tersebut, diharapkan energi baru dan terbarukan dapat mendukung tercapainya target Net Zero Emission Pemerintah pada 2060, sekaligus mencapai swasembada energi nasional. 


"Pertamina melalui Pertamina NRE berkomitmen mempercepat pengembangan transisi energi di Indonesia, salah satunya dengan menggalang kemitraan strategis dengan Pemerintah, industri atau mitra bisnis, akademisi, komunitas, dan media," jelas Baron.  


Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.danantaraindonesia.co.id/.



(Hendhry).

Pertapreneur Aggregator, Bangun UMKM Sektor Pangan Berdaya Saing

 






Media Bisnis Nasional, Jakarta, 15 Januari 2026 – Program Pertapreneur Aggregator (PAG) 2025, PT Pertamina (Persero) membangun UMKM pangan fungsional agar tumbuh sebagai pelaku usaha yang berstandar dan berdaya saing. Program ini mendorong UMKM tidak hanya menghasilkan produk alami, tetapi juga menghadirkan pangan fungsional yang aman, teruji, dan berdampak nyata bagi ketahanan pangan nasional.


Pendekatan tersebut menempatkan keamanan pangan dan kualitas produk sebagai fondasi utama dalam proses pendampingan UMKM, agar bisnisnya berkembang serta naik level. 


Pertamina mendorong penguatan tata kelola produksi, konsistensi mutu, serta kesiapan operasional agar UMKM pangan lokal mampu berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen.


Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyampaikan bahwa penguatan UMKM pangan sejalan dengan Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.


“UMKM pangan perlu didorong untuk naik kelas dengan standar yang kuat. Dengan sistem dan kualitas yang terjaga, UMKM dapat berperan dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus menyediakan produk yang bermanfaat bagi  masyarakat,” ujar Baron.


Salah satu peserta Program Pertapreneur Aggregator 2025, Imago Raw Honey asal Bogor, merupakan satu dari 10 Champion PAG 2025 yang saat ini tengah memasuki tahap Business Acceleration & Scaling Up. 


Melalui pendampingan program tersebut, Imago Raw Honey memperkuat strategi bisnis dan kesiapan  ekspansi melalui pengembangan madu fungsional berbasis riset, guna menjaga kualitas produk sekaligus memastikan keamanan pangan secara konsisten.


Henry, pemilik Imago Raw Honey, menyampaikan bahwa pendampingan dalam PAG memperkuat kapasitas manajemen dan operasional usaha. Pada Desember 2025, Imago Raw Honey berhasil memperoleh sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) sebagai langkah penting dalam memastikan keamanan pangan dan kesiapan produksi skala besar.


Program Pertapreneur Aggregator yang berlangsung sejak akhir 2025, mencakup beberapa rangkaian, mulai dari tahapan Business Accelerarion secara online, dilanjutkan dengan kelas Businesss Acceleration & Scaling Up dengan mentor dari Universitas Gadjah Mada.


Sebanyak 10 Champion PAG 2025 mengikuti pembekalan intensif yang mencakup penguatan strategi bisnis serta penyusunan  awal Business Improvement Plan (BIP), termasuk aspek finansial sebagai dasar perencanaan pengembangan usaha.


Memasuki Januari 2026, program berlanjut ke tahap Visitasi Lapangan (Site Visit) oleh tim asesor ke lokasi usaha masing-masing Champion. Visitasi ini difokuskan pada validasi lapangan melalui pencocokan antara dokumen BIP dengan kondisi riil usaha, meliputi aset, kapasitas produksi, stok, dan operasional sebagai penetapan data baseline.


Selain itu, visitasi juga diarahkan untuk melakukan finalisasi Objective and Key Results (OKR) dengan menurunkan strategi BIP ke dalam target bulanan yang terukur sebagai dasar pemantauan kinerja dan kesiapan pencairan hibah. Tahap ini turut mencakup verifikasi kesiapan agregasi, termasuk keberadaan dan kesiapan calon UMKM untuk dikembangkan melalui skema kolaborasi dan agregasi usaha.


Melalui Program Pertapreneur Aggregator, Pertamina menegaskan komitmennya dalam mendukung UMKM pangan agar tumbuh sebagai pelaku usaha yang berstandar, berdaya saing, serta berkontribusi nyata bagi ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat Indonesia.


Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.danantaraindonesia.co.id/.



(Hendhry).

Mengenal RDMP Balikpapan: Dari Sejarah Sumur Mathilda hingga Jadi ‘Garda Terdepan’ Energi Indonesia Timur

 





Media Bisnis Nasional, Balikpapan, 15 Januari 2026 – Bicara soal Balikpapan, bukan cuma soal keindahan kotanya, tapi juga soal jantung energi Indonesia yang sudah berdenyut lebih dari satu abad. Adalah Kilang Pertamina, yang kini bertransformasi menjadi “dapur energi” raksasa RDMP (Refinery Development Master Plan) Balikpapan.  Sebuah langkah besar untuk memastikan energi Indonesia - khususnya wilayah Timur- akan selalu tersedia.


Sejarah kilang ini bermula jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada 10 Februari 1897. Ditandai dengan ditemukannya sumur minyak pertama di Balikpapan oleh warga negara Belanda, J.H Menten. Tanggal ditemukannya sumur minyak yang diberi nama Mathilda itu, akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Kota Balikpapan. Sejak saat itu, Balikpapan tumbuh dari kota kecil menjadi kota industri minyak yang sangat diperhitungkan di kancah global.


Sumur Mathilda ada di dalam area Kilang Balikpapan pada masa lampau. Kilang ini punya "nyawa" yang panjang. Ia sempat hancur saat Perang Dunia II, namun kembali bangkit dan terus berkembang. Dari yang awalnya hanya mengolah minyak mentah dalam jumlah kecil, kini Kilang Balikpapan bertransformasi menjadi salah satu kilang paling modern dan terbesar di Indonesia, melalui proyek infrastruktur energi terintegrasi Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.


Proyek RDMP Balikpapan bukan sekadar pengembangan kilang biasa. Ini adalah pembangunan masif yang punya misi besar untuk meningkatkan kapasitas pengolahan naik dari 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel per hari, meningkatkan kemandirian dalam mengolah dan menyediakan produk BBM, LPG dan Petrokimia. Tak hanya meningkat secara kapasitas, RDMP Balikpapan juga menghasilkan produk yang nantinya setara dengan standar Euro V, yang artinya jauh lebih bersih dan ramah buat bumi. Lebih jauh, dampak dari RDMP Balikpapan adalah mendorong kemandirian energi, melalui pengurangan ketergantungan kita terhadap impor BBM.


Kilang Balikpapan memegang peran yang sangat vital, karena kilang ini menjadi urat nadi di balik distribusi energi di kawasan Indonesia Timur. Mulai dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua, pasokan energinya untuk mobilitas dan perputaran ekonomi bergantung pada performa kilang ini. 


VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa sejalan dengan tren global yang memiliki kepedulian tinggi pada isu lingkungan dan keberlanjutan, RDMP Balikpapan hadir dengan teknologi yang mampu mengolah feedstock (bahan baku) yang lebih fleksibel dan menghasilkan produk yang lebih berkualitas. Ini adalah bukti bahwa industri energi juga terus beradaptasi untuk menjadi lebih hijau.


Dengan sejarah panjang dan transformasi menuju masa depan, Kilang Balikpapan tetap berdiri kokoh sebagai simbol ketahanan energi nasional yang siap melayani generasi penerus Indonesia di masa yang akan datang. Baron meyakini keterlibatan generasi muda sangat penting untuk memahami nilai historis dan strategis dari aset bangsa ini. “Balikpapan adalah warisan sejarah yang terus kita modernisasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Kami ingin generasi muda tahu bahwa di Balikpapan, para Perwira Pertamina sedang berjuang memastikan setiap tetes energi sampai ke pelosok Indonesia Timur. RDMP adalah bentuk komitmen kami agar Indonesia punya kemandirian energi yang lebih tangguh ke depannya," ujar Baron.


Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.danantaraindonesia.co.id/.



(Hendhry).

Kolaborasi Pertamina–Elnusa Hadirkan Sumur Air Bersih bagi Warga Terdampak Bencana Sumatra

 





Media Bisnis Nasional, Jakarta, 15 Januari 2026 – Pascabencana banjir dan longsor di wilayah Sumatra, ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan paling mendasar untuk pemulihan masyarakat terdampak. Terputusnya akses air bersih tidak hanya menghambat aktivitas harian, tetapi juga berpotensi memperpanjang risiko kesehatan dan sosial di tengah kondisi darurat.


Menjawab kebutuhan tersebut, PT Pertamina (Persero) bersama PT Elnusa Tbk dan Yayasan Baitul Hikmah (YBH) berkolaborasi menghadirkan solusi nyata melalui program penyediaan akses air bersih berbasis pembangunan sumur air pompa di wilayah terdampak bencana, khususnya Aceh Tamiang.


Kolaborasi ini diwujudkan melalui penyerahan 7 unit alat bor sumur air jacro serta donasi yang dihimpun dari Pekerja Elnusa Group, yang akan dimanfaatkan untuk pembangunan sumur air bersih di titik-titik strategis dengan aktivitas masyarakat yang tinggi. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada bantuan darurat, tetapi juga dirancang sebagai bagian dari upaya pemulihan yang terukur, akuntabel, dan berkelanjutan.


Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto menjelaskan bahwa pengalaman Pertamina dalam penanganan berbagai bencana menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih merupakan salah satu kebutuhan paling vital selain logistik dan energi.


“Dari berbagai pengalaman Pertamina dalam mendukung pemulihan bencana di Indonesia, kebutuhan air bersih selalu menjadi kebutuhan utama. Karena itu, kolaborasi ini kami lakukan untuk memastikan masyarakat dapat segera memperoleh akses air bersih yang layak,” ujar Rudi dalam acara Penyerahan Alat Bor Sumur Air & Donasi Elnusa Peduli Bencana Alam Banjir Longsor di Graha Elnusa, Kamis (8/1/2026).


Direktur Operasi PT Elnusa Tbk, Andri Haribowo menyampaikan, kolaborasi ini mencerminkan komitmen bersama dalam menghadirkan solusi berbasis kapabilitas perusahaan. Untuk itu, Pertamina bersama Elnusa dan Yayasan Baitul Hikmah menginisiasi pembangunan sumur air pompa sebagai solusi yang cepat, tepat, dan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak bencana. 


“Inisiatif ini tidak hanya menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi pemulihan yang lebih tangguh ke depan. Kami berharap bantuan ini memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dalam masa pemulihan,” ujar Andri.


Penyerahan bantuan 7 unit alat bor sumur air jacro ini, merupakan bagian dari rencana pembangunan sumur bor di terdampak bencana, terutama Aceh Tamiang dan Pidie Jaya.


Hingga saat ini, Pertamina telah mengebor 5 (lima) sumur di Aceh Tamiang. Dua titik yang berlokasi di Kecamatan Bendahara, yakni Musholla Babul Jannah, Teluk Halban, dan Desa Teluk Kepayang. Satu titik di Kecamatan Rantau yakni Masjid Istikomah, Desa Alur Cucur,  serta 2 (dua) titik di Hunian Sementara, Kecamatan Karang Baru. 


Sebelumnya, Pertamina juga telah melakukan reaktivasi 19 sumur yang tersebar di Kabupaten Aceh Tamiang. Selain itu, Pertamina terus aktif mengirimkan mobil air bersih sebanyak 15 truck per hari, dan hingga 8 Januari 2026 telah tersalur air bersih ke Aceh Tamiang sebanyak 2.165.000 Liter.


Program penyediaan air bersih ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 6 (Clean Water and Sanitation) melalui penyediaan akses air bersih, serta SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) dan SDG 13 (Climate Action) dalam penguatan ketangguhan masyarakat terhadap bencana.


Melalui kolaborasi yang solid, kepedulian sosial, dan pemanfaatan kapabilitas energi nasional, Pertamina dan Elnusa menegaskan komitmennya untuk hadir tidak hanya sebagai entitas bisnis, tetapi juga sebagai bagian dari solusi kemanusiaan dan pemulihan masyarakat. Di tengah tantangan bencana, setiap sumur air bersih yang dibangun menjadi simbol harapan baru dan keberlanjutan bagi masyarakat yang membutuhkan.


“Air bersih bukan hanya kebutuhan masa tanggap darurat, tetapi juga kebutuhan jangka panjang masyarakat pascabencana. Karena itu, Pertamina berkomitmen menyediakan fasilitas air bersih di puluhan titik yang tersebar di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat,” pungkas Rudi.


Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.danantaraindonesia.co.id/.




( Hendhry) 

Pertagas Inisiasi Pusaka Artha, Terapkan Teknologi Migas untuk Bersihkan Infrastruktur Pipa Air Desa

 






Media Bisnis Nasional, Muara Enim, 15 Januari 2026 – PT Pertamina Gas (Pertagas) bagian dari Subholding Gas Pertamina menginisiasi Program Pusaka Artha dengan mengadopsi teknologi migas untuk membantu pemeliharaan infrastruktur pipa air desa. 


Program Pusaka Artha Pertagas menghadirkan teknologi pigging, yang lazim digunakan untuk pembersihan pipa penyalur gas, dimodifikasi menjadi teknologi tepat guna untuk infrastruktur air desa.


Manager Communication Relation & CSR Pertagas, Imam Rismanto mengatakan penerapan teknologi pigging merupakan komitmen Perusahaan untuk selalu hadir memberikan solusi bagi masyarakat desa. 


"Pertagas membawa teknologi yang biasa diterapkan di industri migas sebagai solusi bagi masyarakat desa dalam membersihkan jaringan pipa air yang efisien dan berkelanjutan," ujar Imam. 


Imam menambahkan, sebagai perusahaan yang memiliki keunggulan dalam jaringan infrastruktur energi terintegrasi, Pertagas terus melakukan transfer teknologi kepada masyarakat. 


Sebagai proyek percontohan, Pertagas telah menerjunkan teknisinya dalam penerapan teknologi pigging di Desa Sidomulyo, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan. 


Pertagas juga telah memberikan Workshop Pengenalan Inovasi Sistem Pigging di Desa Sidomulyo. Workshop ini langsung dilakukan di area Pamsimas RT 05, sehingga masyarakat bisa melihat praktik langsung penerapan teknologi tersebut. 


Uji coba teknis yang dipandu oleh Teknisi Pertagas, Deka, membuktikan perubahan signifikan. Dengan memanfaatkan tekanan air pompa untuk mendorong alat sikat khusus (pig), pembersihan kini dapat dilakukan secara in-situ (tanpa bongkar pasang). Durasi pengerjaan terpangkas menjadi 1-2 jam dengan cukup 1-2 personel saja.


Sebelum intervensi teknologi ini, Pengurus Pamsimas Desa Sidomulyo menghadapi inefisiensi pelik. 


Ketua Paguyuban Pamsimas RT 05, Santo, mengungkapkan bahwa metode manual mengharuskan tim mengangkat seluruh unit pompa dan pipa ke permukaan. Proses ini memakan waktu hingga 6-8 jam dengan 3-5 tenaga kerja, sehingga pembersihan hanya sanggup dilakukan sebulan sekali. Akibatnya, endapan lumpur kerap menyumbat aliran.


"Perbedaannya sangat terasa. Dulu, servis pipa terasa berat karena butuh gotong royong seharian. Sekarang prosesnya jauh lebih ringan dan cepat. Karena mudah, kami bisa membersihkan pipa seminggu sekali, membuat air yang sampai ke warga jauh lebih lancar dan jernih," ungkap Santo selaku ketua pengurus Paguyuban Pamsimas RT 05.


Imam menambahkan, Pertagas berkomitmen akan terus mengadopsi teknologi migas untuk memecahkan masalah riil yang dihadapi masyarakat. 


"Kami berharap inovasi ini selain mendorong efisiensi dalam pemeliharaan juga mendukung keberlanjutan akses air bersih warga lebih terjamin," tandas Imam.


Program ini selaras dengan penerapan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) Pertagas, khususnya dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Inovasi ini berkontribusi pada SDG Tujuan 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui penjagaan kualitas infrastruktur, serta SDG Tujuan 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat transfer teknologi yang meningkatkan efisiensi sumber daya pedesaan.




(Hendhry)