Pages

Kamis, April 30, 2026

Samudera Indonesia atau SMDR Catat Kinerja Positif, Dividen Naik Secara YoY

 

 



JAKARTA (Medisbisnisnasional.com) - PT  Samudera  Indonesia  Tbk  (SAMUDERA)  mencatat  pendapatan  USD  184,3  juta  (+2% YoY) dan EBITDA USD 54,9 juta (+13% Year On Year atau YoY) pada Kuartal I 2026.


Hal itu disampaikan, Direktur Utama Samudera Indonesia, Bani M. Mulia, dalam acara penyampaian Laporan Kinerja Kuartal I 2026, pada Kamis Sore, 30 April 2026, yang diselenggarakan secara daring.


Dalam kesempatan tersebut, Bani M Mulia juga menyampaikan bahwa perseroan  berencana  menambah  tiga  armada  baru,  terdiri  dari  dua  kapal  tanker  (4.000 DWT) dan satu kapal peti kemas (10.100 DWT).


Selain itu, Bani M Mulia juga menyampaikan perihal bahwa Samudera Indonesia akan  mengusulkan  total  dividen  tahun  buku  2025  sebesar  Rp12/lembar  saham pada Rapat Umum Pemegang Saham mendatang.


(Redaksi MBN.Com/Corcom SMDR).

Pelindo Regional 2 Salurkan Ratusan Ribu Bantuan dalam Bentuk Santunan, Sembako, hingga Paket Takjil selama Triwulan I 2026



JAKARTA TANJUNG PRIOK (Mediabisnisnasional.com) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 (Pelindo Regional 2) mencatat realisasi kinerja program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) pada Triwulan I tahun 2026 melalui penyaluran bantuan sosial secara serentak di sejumlah cabang operasional.


Sepanjang periode tersebut, Pelindo Regional 2 telah menyalurkan 1.600 santunan, 19.910 paket sembako, serta 12.100 paket takjil yang tersebar di berbagai wilayah kerja, antara lain Banten, Bengkulu, Cirebon, Jambi, Palembang, Pangkal Balam, Panjang, Pontianak, Sunda Kelapa, Tanjung Pandan, Tanjung Priok, hingga Teluk Bayur.


Distribusi bantuan dilakukan melalui masing-masing cabang untuk memastikan penyaluran tepat sasaran kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya di sekitar wilayah pelabuhan.


Executive Director 2 Pelindo Regional 2, Budi Prasetio, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan perusahaan dalam menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.


“Realisasi program TJSL pada Triwulan I 2026 ini menunjukkan komitmen kami untuk terus hadir dan memberikan kontribusi sosial yang langsung dirasakan masyarakat. Kami tidak hanya fokus pada operasional bisnis, tetapi juga pada dampak sosial yang berkelanjutan,” ujar Budi Prasetio.


Ia menambahkan bahwa program ini menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat hubungan antara Pelindo dan masyarakat di sekitar pelabuhan.


“Melalui penyaluran santunan, sembako, dan takjil ini, kami berharap dapat membantu meringankan beban masyarakat sekaligus mempererat hubungan yang harmonis antara perusahaan dan lingkungan sekitar,” lanjutnya.


Beberapa cabang dengan distribusi bantuan dalam jumlah signifikan antara lain Tanjung Priok, Pontianak, dan Cirebon yang mencakup ribuan paket sembako dan takjil serta ratusan santunan.


(Redaksi MBN.Com/Humas Pelindo Regional 2).

Senin, April 27, 2026

PT IPC TPK Gandeng Mitra Pelayaran Perkuat Konservasi Laut dan Ekosistem Pelabuhan Berkelanjutan

 


BANDAR LAMPUNG (Mediabisnisnasional.com, 27 April 2026) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) memperkuat komitmen keberlanjutan dengan menggelar aksi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) penanaman terumbu karang di perairan Pulau Pahawang, Lampung, Sabtu (25/04).  Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (25/04) ini menjadi istimewa karena melibatkan sinergi lintas sektor bersama enam mitra strategis dari perusahaan pelayaran (shipping line), yaitu Caraka Tirta Perkasa (CTP), Meratus Line, Indo Container Line, Temas Line, Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) dan Tresna Muda Sejati.

 

Kegiatan ini merupakan aksi penanaman terumbu karang kedua yang dilakukan IPC TPK bersama para pelanggan (customer), sekaligus mencerminkan pendekatan berkelanjutan perusahaan yang tidak hanya berfokus pada operasional internal, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif seluruh ekosistem pelabuhan. Melalui kolaborasi ini, IPC TPK mengajak para pemangku kepentingan, khususnya pengguna jasa pelayaran, untuk bersama-sama mengambil peran dalam menjaga kelestarian lingkungan laut sebagai fondasi keberlanjutan industri maritim.

 

“Program konservasi ini merupakan langkah konkret IPC TPK dalam menjalankan bisnis yang selaras dengan prinsip berkelanjutan. Kelestarian laut adalah tanggung jawab bersama, terlebih bagi kita yang bergerak di sektor maritim. Dengan melibatkan enam shipping line besar, kami ingin membangun kesadaran kolektif bahwa kemajuan operasional logistik harus berjalan beriringan dengan pemulihan lingkungan hidup,” ujar Yanuar Evyanto, PLT Direktur Komersial & Pengembangan Bisnis IPC TPK.

 

Aksi ini juga menegaskan konsistensi IPC TPK dalam mendukung pelestarian ekosistem laut. Sejak tahun 2017, IPC TPK secara berkelanjutan telah melaksanakan berbagai kegiatan penanaman dan rehabilitasi terumbu karang di sejumlah wilayah pesisir sebagai bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan terhadap lingkungan.

 

Dalam pelaksanaannya, sebanyak 35 rak media tanam dengan 280 bibit terumbu karang diturunkan dan dipasang di dasar laut perairan Pulau Pahawang. Lokasi ini dipilih karena memiliki potensi biodiversitas yang tinggi, namun memerlukan intervensi untuk rehabilitasi akibat dampak perubahan iklim dan aktivitas manusia. Penanaman bibit ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan terumbu karang yang nantinya akan berfungsi sebagai tempat tinggal ikan, pelindung pantai, serta daya tarik ekowisata yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir di wilayah Lampung.

 

Keberadaan terumbu karang yang sehat juga memberikan dampak tidak langsung terhadap keberlanjutan ekosistem pelabuhan. Terumbu karang berperan dalam menjaga keseimbangan biota laut dan kualitas perairan, yang pada akhirnya mendukung stabilitas lingkungan sekitar pelabuhan. Kondisi perairan yang terjaga dengan baik akan membantu meminimalkan sedimentasi berlebih serta menjaga kedalaman alur pelayaran, sehingga kegiatan bongkar muat dapat berlangsung lebih lancar, aman, dan efisien.

 

Melansir data International Coral Reef Initiative (ICRI), sejak Januari 2023 hingga Maret 2025, bleaching level memengaruhi 84% kerusakan terumbu karang dunia akibat tekanan panas. Peristiwa ini merupakan periode tingkat tertinggi pada kerusakan terumbu karang global, dengan lebih dari 80% indikasi kematian karang.

 

Keterlibatan aktif dari Caraka Tirta Perkasa (CTP), Meratus Line, Indo Container Line, Temas Line, Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) dan Tresna Muda Sejati dalam agenda ini menunjukkan soliditas pemangku kepentingan di pelabuhan dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada ekosistem lautan. Pada proses penanaman, IPC TPK juga menggandeng Lampung Underwater Community sebagai pemerhati lingkungan laut di Provinsi Lampung untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga struktur karang dari kerusakan fisik.

 

“Terima kasih kepada IPC TPK atas upaya untuk menjaga ekosistem alam untuk masa depan anak cucu kita di masa yang akan datang. Luar biasa, kegiatan hari ini dapat mempersolid hubungan kami sebagai Shipping Line dengan IPC TPK,” ujar Ketut Bambang dari Meratus Line.

 

Sinergi ini membuktikan bahwa hubungan antara operator terminal dan lini pelayaran tidak hanya terbatas pada efisiensi layanan bongkar muat, tetapi juga mencakup kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan yang berdampak jangka panjang bagi industri dan masyarakat.

 

“Melalui aksi ini, IPC TPK ingin memastikan bahwa setiap langkah operasional kami meninggalkan jejak positif bagi alam. Kami berkomitmen untuk terus memonitor pertumbuhan bibit-bibit karang ini secara berkala agar program ini memberikan manfaat yang berkelanjutan. Harapannya, inisiatif ini dapat menginspirasi lebih banyak pihak di industri logistik untuk berkontribusi aktif dalam menjaga kekayaan Bahari Nusantara demi generasi mendatang,” tutup Yanuar.


(Redaksi MBN.Com/Corcom IPC TPK)

TANGGUH DI TENGAH TEKANAN GLOBAL, IPCC BUKUKAN KINERJA KEUANGAN POSITIF Q1 2026.



JAKARTA (Mediabisnisnasional.com, 28 April 2025) -  Mengawali tahun 2026, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX: IPCC) berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja yang positif dan solid dalam Laporan Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 (unaudited) sebagaimana disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI/IDX) pada Jumat lalu. IPCC mampu membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar Rp.52,81 Miliar pada periode Triwulan I 2026 atau tumbuh 3,21% secara year on year (yoy) di tengah ketidakstabilan kondisi geopolitik internasional. Capaian ini mencerminkan ketangguhan Perseroan dalam menjaga stabilitas bisnis melalui konsistensi penerapan strategi efisiensi serta optimalisasi dan peningkatan kapasitas operasional sebagai pendorong utama pertumbuhan. Dalam upaya Perseroan yang berfokus pada pengelolaan ekosistem logistik terminal kendaraan sebagai entitas bisnis di bawah Subholding Pelindo Multi Terminal, ketahanan terhadap kondisi bisnis yang dinamis serta efektifitas pengalokasiaan anggaran berdasarkan skala prioritas menjadi faktor pembeda untuk mengarungi tahun 2026. 


Dari aspek pendapatan, IPCC berhasil mengumpulkan Rp.202,21 Miliar di triwulan pertama ini, menurun 0,52% (yoy) pada periode yang sama tahun lalu Rp.203,27 Miliar dampak dari penurunan trafik akibat penundaan aktivitas ekspor ke wilayah Timur Tengah. Kontribusi pendapatan perseroan secara konsolidasi menempatkan aktivitas layanan terminal sebagai fondasi utama dengan proporsi pendapatan per kargo 77% CBU, 10% Truck/Bus, 9% Alat Berat dan 4% General Kargo. Seiring dengan program pemerintah dalam melakukan hilirisasi komoditi pertambangan dan rencana untuk swasembada pangan melalui program cetak sawah baru di luar pulau Jawa juga menjadi alasan meningkatkan aktivitas bongkar muat untuk kargo Truck/Bus serta Alat Berat. Berbagai strategi bisnis yang telah diterapkan juga membuahkan hasil yang membanggakan seperti layanan In-land transportation, PDC (Pre Delivery Centre), Port Stock, serta VPC (Vehicle Processing Centre).


Berdasarkan neraca keuangan, kinerja IPCC menunjukkan kondisi yang sehat dan memiliki fundamental yang kuat dengan peningkatan aset 7,9% dari Rp.1,89 Triliun dari periode yang sama tahun 2025 menjadi Rp.2,04 Triliun pada Q1 2026. Adapun pendapatan dari sektor lainpun juga tidak kalah produktifnya baik dari rupa-rupa usaha maupun pengusahaan lahan, bangunan, air, dan listrik turut memberikan kontribusi maksimal untuk perseroan. Direktur Keuangan, SDM dan Manajemen Risiko IPCC Wing Megantoro mengatakan bahwa “Pertumbuhan kinerja keuangan IPCC pada Q1 2026 didapatkan melalui strategi keuangan yang ketat serta berbagai inovasi pada bidang komersial untuk memaksimalkan pendapatan serta memperluas cakupan bisnis Perseroan seiring dengan tagline baru yaitu Integrated Auto Solutions”. 


Perolehan laba yang meningkat salah satu faktornya adalah perseroan menerapkan efisiensi dalam setiap penggunaan anggaran dan berorientasi pada pendapatan langsung tanpa mengorbankan aspek kesehatan dan keselamatan pada kegiatan operasional. Hal ini menjadi bukti bahwa pengelolaan Perseroan yang efisien, sedangkan dari sisi EPS juga meningkat dari Rp.28,14 di triwulan pertama tahun sebelumnya menjadi Rp.29,04 di periode yang sama di tahun ini, tutur Wing. Dari sisi rasio profitabilitas pun juga menunjukan kinerja yang baik. Seiring dengan kenaikan Laba Tahun Berjalan tersebut di atas membuat Net Profit Margin IPCC di triwulan pertama tahun ini meningkat menjadi 26,12% diikuti oleh EBITDA Margin yang juga menanjak menjadi 45,6%. 


Guna menghadapi tantangan bisnis, menjaga kualitas layanan serta memastikan kepuasan pelanggan, IPCC berupaya melakukan peningkatan kapasitas melalui ekspansi lahan penumpukan kendaraan pada area sekitar IPCC yang dimiliki Pelindo Regional 2 Tanjung Priok menjadi target utama perseroan untuk dilakukan pada tahun 2026 yang diharapkan memberikan tambahan ±1.000 slot. Direktur Utama IPCC, Bapak Sugeng Mulyadi, menyampaikan bahwa capaian pada Triwulan I 2026 menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan kinerja perseroan sepanjang tahun. “Kami meyakini bahwa resiliensi bukan hanya tentang bertahan di tengah tekanan, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi dan tumbuh secara berkelanjutan. Melalui disiplin efisiensi, penguatan kapasitas, serta penerapan tata kelola dan manajemen risiko yang konsisten, IPCC akan terus menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Sugeng. Ke depan, perseroan akan terus mendorong kinerja yang lebih optimal melalui sinergi operasional, inovasi layanan, serta penguatan strategi keberlanjutan sebagai landasan utama dalam menghadapi tantangan industri yang semakin dinamis.

Integrated Auto Solutions


IPCC, Leading to be The World Class Car Terminal Ecosystem



(Redaksi MBN.Com/Corcom IPCC).


(Redaksi MBN.,Com ianbisn


al.com

LAPORAN KEUANGAN Q1 2026: FUNDAMENTAL YANG SOLID MENOPANG KINERJA IPCM DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL

 



JAKARTA (Mediabisnisnasional.com) - PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IDX: IPCM) sebagai bagian dari Pelindo Group yang bergerak di bidang jasa pemanduan dan penundaan kapal, merilis laporan keuangan untuk periode yang berakhir pada 31 Maret 2026. Pada kuartal I 2026, IPCM berhasil mencatat kinerja positif dengan pertumbuhan laba bersih sebesar 3,03% menjadi Rp45,57 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp44,24 miliar. Kontribusi utama pendapatan IPCM diperoleh dari jasa pelayanan kapal yang menyumbang Rp334,51 miliar atau 96,34% dari total pendapatan. Sementara itu, pendapatan dari jasa pengangkutan dan layanan lainnya tercatat sebesar Rp12,71 miliar, meningkat 11,12% YoY.


Pendapatan dari jasa pelayanan kapal tercatat sebesar Rp334,51 miliar, yang terdiri dari pelabuhan umum sebesar Rp155,73 miliar, Terminal Khusus (Tersus) sebesar Rp114,11 miliar, dan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) sebesar Rp64,68 miliar. Pada periode ini, pendapatan dari segmen pelabuhan umum dan TUKS mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 2,50% dan 5,14% YoY. Pertumbuhan kinerja juga diiringi dengan peningkatan total aset sebesar 4,39%, dari Rp1,71 triliun pada akhir tahun 2025 menjadi Rp1,79 triliun pada kuartal I tahun 2026.


IPCM tetap membukukan arus kas yang solid di tengah ketegangan dinamika geopolitik, terutama dari arus kas layanan operasional yang meningkat 36,29% menjadi sebesar Rp102,10 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp74,91 miliar.


IPCM juga mencatatkan keberhasilan dalam menjalankan program efisiensi. Hal ini tercermin dari penurunan beban usaha secara signifikan, baik pada beban operasi maupun beban umum dan administrasi. Efisiensi ini menunjukkan komitmen Perseroan untuk menjaga profitabilitas di tengah tantangan eksternal, sekaligus memperkuat fondasi keuangan guna mendukung strategi pertumbuhan berkelanjutan.


Direktur Utama IPCM, Shanti Puruhita menyampaikan, “Di tengah tantangan ekonomi global, IPCM tetap optimistis dapat meningkatkan kinerja pada 2026 dengan menjaga fundamental usaha yang kuat, kerja sama yang lebih erat dengan mitra, mengoptimalkan armada dan awak kapal, serta mengedepankan keselamatan demi kepuasan pengguna jasa.”


Pada awal tahun 2026, IPCM kembali memperkuat kemitraan dengan PT Cemindo Gemilang Tbk melalui perpanjangan kerja sama layanan pemanduan dan penundaan kapal di Terminal Khusus Bayah, Banten. Selain itu IPCM juga memperluas layanan maritim di Sumatera Selatan dengan menjalin kerja sama dengan beberapa mitra strategis baik itu perusahaan pelayaran maupun cargo owner, IPCM menghadirkan layanan Ship to Ship (STS) di Perairan Wajib Pandu Kelas I Ambang Luar Sungai Musi, Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Kolaborasi ini mendukung kelancaran distribusi logistik nasional melalui layanan maritim yang aman, efisien, dan profesional. Langkah strategis ini semakin memperkuat peran IPCM dalam mendukung ekosistem maritim Indonesia.


Selama kuartal pertama tahun 2026, IPCM kembali menorehkan prestasi dengan meraih penghargaan “Inovasi Bisnis Perusahaan Terbaik III” dalam ajang Anugerah BUMN 2026. 


Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas berbagai inovasi bisnis yang terus dikembangkan IPCM untuk mendukung peningkatan kinerja perusahaan serta memperkuat daya saing di industri jasa maritim. Pencapaian ini juga menjadi bukti komitmen IPCM dalam menghadirkan inovasi yang memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan serta mendorong keandalan operasional dan kualitas layanan perusahaan secara berkelanjutan.



(Redaksi ISL News/Corcom IPCM).



Dilewati 22 Persen PERDAGANGAN MARITIM DUNIA & 100.000 KAPAL PER Tahun : INI Cara INDONESIA Optimalkan SELAT MALAKA

 




INDONESIA (Mediabisnisnasional.com) - Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia dengan estimasi lebih dari 100.000 kapal melintas setiap tahun dan mengangkut sekitar 22 persen perdagangan maritim dunia. Jalur ini juga menjadi koridor utama distribusi energi dunia, di mana sekitar 23 juta barel minyak per hari melintasi kawasan ini. Posisi strategis tersebut menempatkan Indonesia sebagai aktor kunci dalam sistem logistik global, terutama melalui keterkaitannya dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang menjadi jalur resmi pelayaran internasional lintas kepulauan.



Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyatakan kontribusi ekonomi langsung yang diperoleh Indonesia dari lalu lintas tersebut masih terbatas, karena sebagian besar kapal hanya melintas tanpa melakukan aktivitas ekonomi.



Indonesia perlu melakukan pendekatan strategis dengan memanfaatkan intensitas lalu lintas tersebut sebagai peluang untuk menciptakan nilai tambah ekonomi. Indonesia perlu bertransformasi dari sekadar negara lintasan (pass-through economy) menjadi negara penyedia layanan (service-based maritime economy).



Dengan lebih dari 90.000 kapal yang melintas setiap tahun, bahkan jika hanya 5–10% kapal melakukan port call di Indonesia, potensi ekonomi yang tercipta sangat signifikan, baik dari sisi pendapatan pelabuhan, jasa logistik, maupun multiplier effect terhadap industri pendukung.



Pengalaman Singapura menunjukkan bahwa nilai ekonomi terbesar dari jalur pelayaran bukan berasal dari pungutan lintas, melainkan dari layanan bernilai tambah. Singapura saat ini menjadi hub bunkering terbesar di dunia dengan volume lebih dari 50 juta ton bahan bakar kapal per tahun, serta menangani lebih dari 37 juta TEUs peti kemas per tahun.



Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam memanfaatkan peluang tersebut, baik dari sisi kinerja pelabuhan maupun struktur arus muatan. Kinerja beberapa pelabuhan utama masih tertinggal dalam hal turnaround time dan efisiensi dibandingkan hub regional, sementara keterbatasan layanan bernilai tambah seperti bunkering, ship repair, dan transshipment menyebabkan kapal internasional belum memiliki insentif kuat untuk singgah di Indonesia.



Selain itu, muatan ekspor-impor yang masih tersebar di berbagai pelabuhan membuat volume tidak terkonsolidasi, sehingga belum cukup menarik bagi mother vessel untuk melakukan direct call.



Kondisi tersebut mendorong operator pelayaran lebih memilih pelabuhan dengan volume besar dan stabil, sehingga arus ekspor-impor Indonesia masih banyak dilayani melalui skema transshipment di hub regional seperti Singapura atau Port Klang yang berdampak terhadap biaya logistik yang lebih tinggi, lead time yang lebih panjang, serta kehilangan potensi nilai tambah ekonomi yang seharusnya dapat ditangkap di dalam negeri.



Setijadi menilai bahwa penguatan peran Indonesia dalam rantai pasok global memerlukan perubahan paradigma kebijakan. Pengembangan maritime logistics hub di sekitar Selat Malaka dan ALKI, peningkatan layanan pelabuhan, serta integrasi multimoda menjadi kunci untuk menarik aktivitas ekonomi ke dalam negeri.



Dengan strategi yang tepat, Selat Malaka dan ALKI dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia. Pendekatan berbasis layanan tidak hanya sesuai dengan ketentuan hukum internasional, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih berkelanjutan. Indonesia memiliki peluang besar untuk bertransformasi menjadi pemain utama dalam sistem logistik maritim global, bukan hanya sebagai jalur lintasan, tetapi sebagai pusat aktivitas ekonomi yang bernilai tinggi.


(Redaksi MBN.Com/Humas SCI).

Sabtu, April 25, 2026

Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai Kelas I Tanjung Priok (KPLP) Tangkap Kapal Tanker MT. HASIL, Berkas Perkara Dinyatakan Lengkap (P.21), Tegaskan Penegakan Hukum di Laut




JAKARTA (Mediabisnisnasional.com) — Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Kelas I Tanjung Priok, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, menegaskan komitmennya dalam penegakan hukum di laut melalui keberhasilan penanganan perkara Kapal Tanker MT. HASIL GT.181 yang telah dinyatakan lengkap (P.21) oleh pihak Kejaksaan.


Sebagai tindak lanjut, pada Jumat (24 April 2026) pukul 13.00 WIB, Pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok melaksanakan kegiatan pengecekan barang bukti bertempat di Kantor Pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok. Kegiatan ini merupakan bagian penting dalam memastikan kesesuaian antara barang bukti dengan dokumen berkas perkara sebelum dilaksanakan pelimpahan ke tahap penuntutan.


Keberhasilan ini merupakan hasil dari operasi patroli laut KPLP melalui Kapal Negara KN. Jembio – P.215 yang dikomandani oleh Capt. Luhut Marulitua Simanullang, yang secara profesional melaksanakan pemeriksaan dan penindakan terhadap Kapal Tanker MT. HASIL GT.181 sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.


Langkah tersebut menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam menjaga kedaulatan, keselamatan, dan ketertiban hukum di wilayah perairan Indonesia.


Pengecekan barang bukti merupakan tahapan krusial dalam sistem peradilan pidana yang bertujuan untuk:

* Memastikan kesesuaian antara barang bukti dengan berkas perkara

* Menjamin keabsahan dan integritas barang bukti

* Memperkuat kualitas pembuktian sebelum dilimpahkan kepada Jaksa Penuntut Umum


Dengan telah dinyatakannya berkas perkara lengkap (P.21), seluruh unsur formil dan materil dalam proses penyidikan telah terpenuhi, sehingga perkara siap untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya.


Kegiatan pengecekan barang bukti dilaksanakan secara terpadu dengan melibatkan unsur lintas instansi, antara lain: Koorwas PPNS Ditreskrimsus Polda Banten, Kejaksaan Tinggi Banten, Kejaksaan Negeri Cilegon, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) KPLP dan Tim Provos Pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok


Selain itu, keberhasilan operasi ini juga didukung oleh koordinasi yang solid antara unsur patroli KN. Jembio – P.215 dengan Koordinator PIC Penyidik PPNS Pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok, Junaidi, S.H., beserta tim.


Sinergi tersebut merupakan implementasi dari integrated criminal justice system, guna memastikan setiap tahapan penanganan perkara berjalan secara profesional, transparan, dan akuntabel sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.


Sehubungan dengan telah dilaksanakannya pengecekan barang bukti, proses penanganan perkara akan dilanjutkan ke Tahap II, yaitu penyerahan tersangka dan barang bukti kepada Jaksa Penuntut Umum, yang direncanakan pada:

Hari/Tanggal : Senin, 27 April 2026.


Tahapan ini merupakan bagian penting dalam menjamin kepastian hukum serta keberlanjutan proses peradilan hingga tahap penuntutan dan persidangan.


Kepala Pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok, Fourmansyah, S.H., M.M., M.H., menyampaikan:


> “Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai Kelas I Tanjung Priok sebagai unsur KPLP Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan berkomitmen penuh dalam menegakkan hukum di wilayah perairan Indonesia secara profesional, transparan, dan akuntabel.”


> “Pengecekan barang bukti ini merupakan bagian penting dalam memastikan kesesuaian antara fakta material dengan berkas perkara serta menjamin integritas proses penegakan hukum.”


> “Dengan telah dinyatakannya berkas perkara lengkap (P.21), kami siap melaksanakan Tahap II sebagai bentuk kesinambungan proses penegakan hukum hingga ke tahap penuntutan, guna memberikan kepastian hukum serta efek jera terhadap setiap pelanggaran di bidang pelayaran.”


Sebagai unsur penegak hukum di laut, KPLP Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan terus memperkuat peran strategisnya dalam:

* Menegakkan hukum secara tegas, konsisten, dan berintegritas

* Menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran

* Melindungi lingkungan maritim

* Mendukung supremasi hukum di wilayah perairan Indonesia


Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dalam kondisi aman, tertib, dan lancar.(mth)



(Redaksi MBN.Com/Humas PLP Kelas 1 Tg. Priok).

KSOP UTAMA SURABAYA DAN PT TERMINAL TELUK LAMONG UJI COBA ZONA LABUH 2 (EAZI), UPAYA PANGKAS WAKTU TUNGGU KAPAL DI TANJUNG PERAK



SURABAYA (Mediabisnisnasional.com) — Upaya meningkatkan efektivitas layanan kepelabuhanan terus dilakukan oleh KSOP Utama Tanjung Perak Surabaya bersama PT Terminal Teluk Lamong (TTL), dengan melaksanakan uji coba penataan Zona Labuh 2 yang akan memangkas waktu tunggu kapal untuk bersandar. Program ini menjadi bagian dari implementasi Express Anchorage Zone Service (EAZI) yang bertujuan menciptakan sistem pelayanan kapal yang lebih terjadwal, terintegrasi, selamat dan aman.

 

Uji coba ini dilaksanakan di Terminal Petikemas Nilam (TPK Nilam) Kamis (23/4) sebagai lokasi pilot project untuk kemudian dilanjutkan di Terminal Petikemas Berlian (TPK Berlian) yang berada dibawah PT. Terminal Teluk Lamong.

 

Uji coba ini ditandai dengan pelayanan MV Minas Baru sebagai kapal pertama yang menggunakan alur proses layanan yang baru, dimulai dari saat kapal memasuki zona labuh hingga proses sandar di terminal. Dalam skema baru ini, kapal yang hendak bersandar di TPK Nilam dan TPK Berlian, khususnya yang berukuran lebih dari 4000 GT dengan panjang maksimal (LOA) sampai dengan 150 M, tidak lagi menunggu di area labuh luar. Sebaliknya, kapal tersebut diarahkan menuju titik labuh yang telah ditentukan berdasarkan sistem penjadwalan terintegrasi.

 

Seluruh proses didukung oleh platform digital Inaportnet yang terintegrasi dengan Portal Perak Extended (KSOP Utama Tanjung Perak) dan Phinisi (PT. Pelindo) yang memungkinkan perencanaan kedatangan kapal (Estimated Time of Arrival / ETA) dan waktu sandar dilakukan secara lebih presisi dan terkoordinasi.

 

Melalui pendekatan ini, waktu tunggu kapal ditargetkan untuk dapat ditekan signifikan, dari semula rata-rata 4–6 jam menjadi hanya sekitar 2 jam bahkan kurang. Selain meningkatkan efisiensi, pengaturan pergerakan kapal yang lebih terstruktur dan terkoordinir juga berkontribusi terhadap peningkatan keselamatan navigasi dengan mengurangi kepadatan serta potensi gangguan lalu lintas di wilayah alur pelayaran pelabuhan tanjungan.

 

Kapal MV Minas Baru yang melayani rute domestik dipilih guna menguji efektivitas sistem dalam kondisi operasional yang nyata, sekaligus menjadi langkah awal penting dalam mengukur kinerja sistem EAZI secara menyeluruh di lapangan. Dalam pelaksanaannya, uji coba berhasil merefleksikan kondisi riil di lapangan, khususnya dinamika pergantian kapal dari KM Tanto Luas ke MV Minas Baru.

 

Pada saat uji coba dilaksanakan, KM Tanto Luas masih dalam tahap penyelesaian kegiatan bongkar muat dengan sedikit muatan tersisa, sementara MV Minas Baru telah berada di area Karang Jamuang pada pukul 11.35 WIB, kemudian MV Minas Baru melakukan manuver menuju zona EAZI dan lego jangkar (drop anchor) pada pukul 13.42 WIB untuk menunggu kesiapan tambatan.

 

MV Minas Baru tercatat berada di Zona Labuh 2 (EAZI) selama kurang lebih 1 jam sebelum melaksanakan manuver sandar pada pukul 15.50 WIB. Rangkaian proses ini menunjukkan implementasi awal sistem penjadwalan yang lebih terstruktur dan terkoordinir dalam mengatur alur kedatangan dan kesiapan sandar kapal.

 

Menanggapi keberhasilan ini Kepala Kantor KSOP Utama Tanjung Perak, Agustinus Maun S.T.,M.T menyatakan “Uji Coba Penerapan Program layanan EAZI, sebagai program yang dirancang oleh KSOPU Tanjung Perak untuk mengoptimalkan pemanfaatan zona labuh, terbukti efektif dalam meningkatkan keteraturan plotting kapal serta meningkatkan efektivitas layanan kapal  di pelabuhan tanjung perak” jelas Agustinus.

 

“Keberhasilan ini didukung oleh optimalisasi koordinasi antara unsur KSOPU Tanjung Perak,Pandu, VTS, dan PT Terminal Teluk Lamong yang berjalan selaras dengan standar operasional prosedur (SOP), sehingga secara signifikan meningkatkan kelancaran aktivitas di pelabuhan Tanjung Perak” tambahnya.

 

Terminal Head TPK Nilam, Retno Pujianto menyampaikan “Uji coba ini merupakan langkah penting dalam transformasi layanan kepelabuhanan, penataan zona labuh ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat aspek keselamatan dan kepastian layanan bagi pengguna jasa,” ujarnya.

 

Uji coba Program Layanan (EAZI) menjadi bukti keberhasilan sinergi antara operator pelabuhan, regulator, serta para pelaku usaha pelayaran dalam mendukung kelancaran arus logistik nasional.

 

Evaluasi terhadap hasil uji coba akan terus dilakukan untuk memastikan strategi telah berjalan secara optimal, sebelum nantinya sistem diterapkan secara penuh dan menjadi standar baru dalam pengelolaan zona labuh di pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia, guna mendorong daya saing sektor logistik nasional di tingkat global.


(Redaksi MBN.Com/Corcom TTL).

Bongkar Pupuk di Lampung, PTP Nonpetikemas Ambil Peran dalam Rantai Pasok Pertanian Nasional



LAMPUNG (Mediabisnisnasional.com)  – PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) Cabang Panjang terus memperkuat perannya dalam mendukung upaya ketahanan pangan nasional melalui kelancaran distribusi pupuk untuk sektor pertanian. Hal ini dilakukan melalui optimalisasi layanan bongkar muat yang andal dan terintegrasi di wilayah Lampung dan Sumatera Bagian Selatan.


Telah dilaksanakan kegiatan bongkar muat pupuk curah jenis Phonska sebanyak 7.000 ton di Terminal Curah Kering PTP Nonpetikemas Cabang Panjang. Komoditas ini diangkut menggunakan kapal KM Bunga Teratai yang berasal dari Pelabuhan Gresik, Jawa Timur. Kapal mulai sandar pada 23 April 2026 dan direncanakan proses bongkar berlangsung hingga 25 April 2026.


Proses bongkar dilakukan langsung oleh PTP Nonpetikemas Cabang Panjang dengan memanfaatkan fasilitas pelabuhan yang tersedia, antara lain Gantry Luffing Crane, Hopper, dan Grab guna menunjang kelancaran operasional.


Adapun pupuk Phonska yang dibongkar merupakan pupuk milik PT Pupuk Indonesia dalam hal ini diwakili oleh PT Petrokopindo Cipta Selaras, yang akan digunakan dalam kegiatan pertanian, khususnya tanaman padi dan buah-buahan yang juga menjadi komoditas unggulan ekspor Provinsi Lampung.Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan pupuk nasional serta mendukung sektor pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia.


Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Panjang, Doddy Setiawan, menyampaikan bahwa pihaknya terus berkomitmen dalam mendukung kelancaran distribusi logistik nasional, khususnya komoditas strategis seperti pupuk.


“Kami berkomitmen penuh untuk mendukung kelancaran distribusi pupuk sebagai komoditas strategis nasional. Melalui dukungan fasilitas dan pelayanan operasional yang optimal, kami berharap proses distribusi ini dapat berjalan lebih efisien dan tepat waktu, sehingga mampu menunjang kebutuhan industri pupuk serta sektor pertanian di wilayah ini,” ujar Doddy (23/04/26).


Produktivitas bongkar muat PTP Nonpetikemas Cabang Panjang pada triwulan pertama ini juga menunjukkan capaian positif. Throughput curah kering tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 5% dibandingkan target yang telah ditetapkan perusahaan.


PTP Nonpetikemas juga bertransformasi digital untuk memperkuat peran pengendalian operasi melalui Integrated Planning Control dengan mengoperasikan sistem PTOS-M (Pelindo Terminal Operating System Multipurpose). Sistem ini merupakan platform operasi terminal terintegrasi milik Pelindo yang digunakan untuk mengelola berbagai jenis kargo nonpetikemas secara digital, mencakup proses perencanaan, operasi, monitoring, pengendalian hingga pelaporan guna meningkatkan efisiensi dan standardisasi layanan pelabuhan di Indonesia.


“Didukung jaringan operasional di 11 wilayah pelabuhan di Indonesia bagian barat, PTP Nonpetikemas sebagai bagian dari Pelindo Group terus memperkuat layanan terminal nonpetikemas yang andal dan terintegrasi. Pengalaman dalam menangani berbagai jenis kargo, mulai dari curah cair, curah kering, hingga general cargo, menjadi fondasi dalam memastikan kelancaran arus logistik,” ujar Liestya Ary Anggraini, ASM Komunikasi Perusahaan & CSR PTP Nonpetikemas.


Pada triwulan I 2026 secara konsolidasi, kinerja throughput PTP Nonpetikemas mencapai 12,4 juta ton, meningkat 3,84% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 11,9 juta ton. Komposisi throughput tersebut didominasi oleh curah kering sebesar 5,7 juta ton atau 46%, diikuti general cargo 2,9 juta ton atau 24%, curah cair 3 juta ton atau 25%, serta bag cargo sebesar 656 ribu ton atau 5%.


Melalui kegiatan ini, diharapkan distribusi bahan baku pupuk dapat berjalan lancar sehingga mampu mendukung produktivitas pertanian nasional secara berkelanjutan.


(Redaksi MBN.Com/Corcom PTP Nonpetiikemas).


Rabu, April 22, 2026

SPTP Tunjukkan Kinerja Positif di Tengah Gejolak Global

 



SURABAYA INDONESIA (Mediabisnisnasional.com) – Industri logistik global menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya energi, gangguan rantai pasok, serta ketegangan geopolitik. Di tengah situasi tersebut, kinerja sejumlah Terminal Peti Kemas (TPK) domestik justru menunjukkan tren positif pada triwulan I 2026.


Data yang dihimpun dari PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) terdapat 10 terminal yang mampu melampaui target hingga Maret 2026. Terminal peti kemas (TPK) tersebut yaitu TPK Nilam yang mencapai target 118,24%, TPK Semarang 117,26%, TPK Sorong 109,02%, TPK Kendari 107,03%, TPK Teluk Lamong 105,1%, TPK Merauke 103,86%, TPK Surabaya 102,09%, TPK Jayapura 101,36%, TPK Makassar 100,75%, dan IPC Terminal Petikemas 100,6%.


Capaian ini mencerminkan tingginya aktivitas bongkar muat serta meningkatnya arus distribusi barang di masing-masing daerah, termasuk wilayah timur Indonesia.


Di PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) Merauke salah satunya, arus peti kemas meningkat sekitar 10 persen. Kepala Cabang PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) Merauke, Puji Harmoko, mengatakan peningkatan tersebut seiring penetapan Merauke sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).


 “Peningkatan ini seiring penetapan Merauke sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Banyak material pembangunan dan alat berat masuk dari Pulau Jawa,” jelas Puji Harmoko saat dihubungi, Senin (20/4/2026).


Selain itu, komoditas yang masuk ke TPK Merauke juga mengalami perubahan. “Komoditas seperti buah, bawang, hingga hasil perkebunan mulai berdatangan dalam jumlah lebih besar, membuka potensi ekonomi baru bagi wilayah paling timur Indonesia tersebut,” ucapnya.


Namun pertumbuhan logistik saja saat ini belum cukup. Tanpa dukungan infrastruktur, efisiensi operasional, dan kebijakan yang tepat, beban logistik berpotensi terus menekan pelaku usaha dan masyarakat.


Sementara, di TPK Sorong arus peti kemas (throughput) tercatat mencapai 16.131 TEUs, atau tumbuh 10 persen dibandingkan target perusahaan hingga Maret 2026 sebesar 14.616 TEUs.


Peningkatan ini antara lain dipicu oleh momentum angkutan barang selama periode Hari Raya Idulfitri pada Februari hingga Maret, serta tambahan arus peti kemas dari perubahan pola distribusi (transhipment) kapal PT SPIL yang kini melalui Pelabuhan Sorong.


Terminal Head TPK Sorong, Welta Selfie, menyebut pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari proses transformasi terminal. “Pelabuhan Sorong yang sebelumnya beroperasi secara konvensional kini telah berkembang menjadi terminal petikemas yang lebih modern dan terstandarisasi,” ujarnya.


Sementara itu, Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA), Yukki Nugrahawan Hanafi, menilai tekanan global menjadi momentum untuk mempercepat transformasi logistik nasional. Menurutnya, integrasi transportasi multimoda dan pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) menjadi kunci meningkatkan efisiensi dan ketahanan rantai pasok.


“Pendekatan transportasi multimoda bukan lagi pilihan dalam penguatan sistem logistik nasional, melainkan kebutuhan agar menjadi lebih kompetitif dan resilien. Namun, integrasi fisik pada pembangunan infrastruktur saja tidak cukup, dimana hal ini harus didukung oleh pemanfaatan teknologi, khususnya AI,” jelas Yukki dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).


Penguatan integrasi digital melalui platform seperti National Logistics Ecosystem (NLE) menjadi langkah strategis dalam menciptakan visibilitas hulu ke hilir pada rantai pasok nasional.


“Dengan menggabungkan kekuatan multimoda, integrasi supply chain, dan pemanfaatan AI, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi logistik nasional. Ini bukan hanya tentang menurunkan biaya, tetapi juga meningkatkan daya saing dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” ujar Yukki.

 

Penopang Ekonomi

Pakar ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Profesor Rossanto Dwi Handoyo, menyebutkan sektor logistik, khususnya pelabuhan peti kemas, tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Hal ini tidak lepas dari karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi laut.


“Sebagian besar distribusi barang, baik domestik maupun internasional, melalui jalur laut. Pelabuhan menjadi simpul utama yang menggerakkan ekonomi,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).  Peran ini menjadi semakin krusial karena kapasitas angkutan udara yang terbatas dan biaya yang jauh lebih tinggi, sehingga tidak bisa diandalkan untuk distribusi dalam skala besar.


Rossanto melihat adanya pertumbuhan arus peti kemas di sejumlah terminal sebagai sinyal positif bagi aktivitas ekonomi nasional, termasuk di kawasan Indonesia Timur. Peningkatan throughput mencerminkan adanya pergerakan barang yang lebih aktif, baik untuk konsumsi maupun produksi.


Rossanto menekankan pentingnya percepatan digitalisasi di sektor pelabuhan dan logistik. Pemanfaatan teknologi dinilai mampu meningkatkan efisiensi, mempercepat layanan, serta menekan biaya operasional. “Digitalisasi akan memangkas waktu tunggu, mempercepat proses bongkar muat, dan meningkatkan transparansi. Ini sangat penting untuk daya saing. Selain itu, integrasi sistem logistik juga dinilai penting agar arus barang dapat dipantau secara real time dan lebih terkoordinasi,” ulasnya.


(Redaksi MBN.Com/Corcom SPTP).  

 

Selasa, April 21, 2026

Pengawasan Khusus Atau Commad Center Berakhir, Arus Logistik Tanjung Priok Tetap Prima



JAKARTA (Media Bisnis Nasional.com) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Tanjung Priok menegaskan komitmennya dalam menjaga kelancaran arus logistik nasional melalui penguatan pengendalian operasional pasca Idulfitri 2026 di Pelabuhan Tanjung Priok.


Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan Penutupan Command Center Pengendalian Kelancaran Arus Logistik Pasca Idulfitri Tahun 2026 yang diselenggarakan di Museum Maritim Indonesia, Pelabuhan Tanjung Priok, Senin (20/4).


Kegiatan ini utamanya dihadiri oleh Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Muhammad Masyhud, S.T., M.T., serta turut dihadiri oleh Kepala KSOP Utama Tanjung Priok, jajaran Dirlantas Polda Metro Jaya, Walikota Jakarta Utara, Direksi dan manajemen Pelindo, serta stakeholder dan asosiasi kepelabuhanan.


Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Muhammad Masyhud, menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian arus logistik di Tanjung Priok dapat menjadi model nasional.

“Pengaturan arus logistik di Pelabuhan Tanjung Priok menunjukkan bahwa dengan strategi yang tepat—melalui gatepass adaptif, monitoring real-time, dan sinergi lintas stakeholder—kita mampu mengendalikan kepadatan secara signifikan. Ke depan, pendekatan ini akan kami dorong menjadi standar operasional di pelabuhan lain di Indonesia.”


Kepala KSOP Utama Tanjung Priok, Capt. Heru Susanto, juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berperan aktif dalam pengendalian arus logistik, baik sebelum maupun sesudah Hari Raya Idulfitri, sehingga lalu lintas di kawasan pelabuhan dapat terkendali dengan baik.

“Yard tetap dalam kondisi terkendali dan tidak terjadi bottleneck yang mengganggu arus logistik,” ujarnya.


Senada dari sisi lalu lintas, Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, AKBP Ariek Indra Sentanu, menyebutkan bahwa pola pengendalian yang diterapkan berhasil menekan potensi kemacetan.

“Arus kendaraan terjaga tanpa overcapacity berkat penguatan monitoring dan rekayasa lalu lintas yang adaptif,” katanya.


Pada kesempatan yang sama, Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Yandri Trisaputra, menegaskan bahwa pengendalian arus logistik tidak hanya berfokus pada masa puncak, tetapi juga pada fase pasca Idulfitri yang memiliki potensi lonjakan kendaraan cukup signifikan.


“Pasca Idulfitri justru menjadi fase yang perlu diantisipasi secara serius, karena terjadi peningkatan pergerakan kendaraan logistik seiring normalisasi aktivitas distribusi. Pelindo Regional 2 Tanjung Priok bersama stakeholder telah mengoptimalkan fungsi Command Center untuk memastikan arus tetap terkendali, terukur, dan tidak menimbulkan kepadatan di kawasan pelabuhan maupun akses sekitarnya,” ujar Yandri.


“Kami mengedepankan kolaborasi lintas sektor dan pengambilan keputusan berbasis data di lapangan. Dengan demikian, potensi peningkatan arus kendaraan dapat diantisipasi lebih dini dan ditangani secara cepat. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bersama-sama menjaga kondusivitas Pelabuhan Tanjung Priok,” tambahnya.


Command Center dibentuk sebagai bagian dari manajemen lalu lintas berbasis kapasitas untuk mengendalikan arus kendaraan yang masuk ke kawasan pelabuhan. Melalui mekanisme ini, pengaturan jumlah kendaraan dilakukan secara dinamis melalui sistem gate pass dengan mempertimbangkan kondisi operasional terminal dan situasi lalu lintas di sekitar pelabuhan.


Selain itu, operator terminal juga diberikan fleksibilitas untuk melakukan penyesuaian release gate pass dengan tetap memperhatikan kesiapan area terminal serta langkah antisipasi terhadap potensi kepadatan.


(Redaksi MBN.Com/M.Anwar Humas Pelindo Reg. 2 Tg.Priok). 

Minggu, April 19, 2026

Pelindo Marine Perluas Layanan, Dukung Kelancaran Distribusi Minerba di Sulawesi dan Kalimantan



KOLONEDALE (Media Bisnis Nasional.Com) PT Pelindo Marine Service (Pelindo Marine) memperkuat komitmennya dalam mendukung keselamatan dan kelancaran distribusi mineral dan batu bara (minerba) nasional. Langkah ini diwujudkan melalui ekspansi layanan penundaan dan pemanduan kapal di wilayah Kolonodale, Morowali Utara, Sulawesi Tengah, sejak awal 2026, serta di wilayah perairan Muara Pegah dan Muara Muntai, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang telah dimulai sejak akhir 2025.


Direktur Komersial, Operasi dan Teknik Pelindo Marine, Elvin Syah Putra, menegaskan kesiapan armada perusahaan dalam mendukung distribusi minerba yang menjadi pilar vital ketahanan energi dan industri nasional. “Dengan dukungan armada andal dan awak kapal profesional, Pelindo Marine berkomitmen memastikan proses penundaan dan pemanduan kapal berjalan optimal dan aman, terutama di wilayah perairan dengan tingkat kesulitan operasional yang tinggi,” ujar Elvin.


Dukungan ini juga mendapat apresiasi dari Kepala Kantor UPP Kelas III Kolonodale, Capt. Bobby Riyatman, S.Pel., MM. Menurutnya, kehadiran layanan pemanduan dan penundaan kapal yang profesional sangat membantu menjaga keselamatan navigasi di perairan wilayah Morowali Utara yang lalu lintas kapalnya kian padat. "Dukungan armada yang memadai tidak hanya meningkatkan keselamatan pelayaran, tetapi juga memperlancar arus logistik di pelabuhan sehingga distribusi nikel dan komoditas lainnya dapat berjalan lebih efisien dan tepat waktu," ujar Bobby.


Senada dengan hal tersebut, Senior Manajer Komersial Pelindo Marine, Dhika Ramadhany Putra, menjelaskan bahwa masing‑masing wilayah operasi memiliki karakteristik dan potensi komoditas yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan layanan yang tepat dan terintegrasi. “Wilayah perairan Kolonodale, Morowali Utara memiliki potensi nikel yang sangat besar, sementara Muara Pegah dan Muara Muntai merupakan salah satu jalur utama distribusi batu bara. Pelindo Marine hadir untuk memastikan layanan penundaan kapal di titik-titik strategis tersebut berjalan optimal,” jelas Dhika.


Sementara itu, Pelaksana Administrasi Pengawakan dan Operasi Wilayah Kendari PT Pelindo Marine Service, Muamar menjelaskan bahwa di area perairan Kolonodale Pelindo Marine tidak hanya melayani penundaan dan pemanduan kapal dengan muatan nikel, tetapi juga berbagai jenis muatan lainnya. “Di wilayah perairan Kolonodale, selain melayani kapal tongkang bermuatan nikel, Pelindo Marine juga menangani penundaan kapal dengan muatan minyak dan gas, alat berat, serta kapal penumpang. Seluruh layanan tersebut dilaksanakan dengan mengutamakan keselamatan, ketepatan waktu, dan kepatuhan terhadap regulasi pelayaran,” ungkap Muamar.


Sebagai bagian dari komitmen perusahaan, Pelindo Marine akan terus menghadirkan layanan penundaan dan pemanduan kapal yang andal dengan mengedepankan prinsip melayani sepenuh hati, guna mendukung keselamatan pelayaran serta kelancaran distribusi mineral dan batubara demi pembangunan ekonomi Indonesia.


(Redaksi MBN.Com/Corcom PMS).


Sabtu, April 18, 2026

Pelabuhan Tanjung Priok Tanam Harapan Baru bagi Ekosistem Laut di Kepulauan Seribu

 

 

 




JAKARTA (Media Bisnis Nasional.Com) - Upaya menjaga kelestarian lingkungan laut terus diperkuat oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Kali ini, melalui program Pelindo Lestari, perusahaan melaksanakan kick-off Program Flora dan Fauna berupa konservasi terumbu karang dan ekosistem laut di wilayah Kepulauan Seribu, Kamis (15/4/2026).


Kegiatan yang dipusatkan di kawasan Pulau Pramuka ini melibatkan berbagai stakeholder, di antaranya pemerintah setempat serta komunitas lingkungan Smiling Coral Indonesia. Program ini merupakan bagian dari komitmen Pelindo untuk menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir dan laut sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.


Melalui program tersebut, Pelindo menyalurkan sejumlah bantuan konservasi yang meliputi transplantasi 105 media terumbu karang (1.050 baby coral), 100 paket bibit lamun, serta konservasi dan pelepasan 30 ekor tukik penyu ke habitat alaminya. Inisiatif ini diharapkan dapat membantu memulihkan ekosistem laut sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim.


Program ini juga menjadi bagian dari dukungan Pelindo terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek aksi terhadap perubahan iklim, perlindungan kehidupan bawah laut, penciptaan pekerjaan layak, serta kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.


Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Yandri Trisaputra, mengatakan bahwa pelaksanaan program ini merupakan wujud nyata komitmen Perusahaan dalam menajaga keseimbangan antara aktivitas bisnis dan kelestarian lingkungan.


“Melalui program Pelindo Lestari ini, kami ingin memberikan kontribusi nyata bagi keberlanjutan ekosistem laut di Kepulauan Seribu. Konservasi terumbu karang, penanaman lamun, hingga pelepasan tukik penyu merupakan langkah kecil yang kami harapkan dapat memberikan dampak besar bagi kelestarian lingkungan serta kehidupan Masyarakat pesisir di masa depan,” ujar Yandri.


Menurutnya, kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas lingkungan, serta masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberhasilan program konservasi tersebut.


Pelindo berharap program ini tidak hanya berdampak pada pemulihan ekosistem laut, tetapi juga mampu meningkatkan kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.


(Redaksi MBN.Com Humas Pelindo Regional 2 Tg. Priok).